Beberapa hari setelah pertemuan Para Pengingat yang berakhir tanpa kesimpulan, Elian kembali menerima undangan dari istana. Kali ini tidak ada rasa terkejut. Tidak ada pula kecemasan yang dulu memenuhi dadanya ketika pertama kali dipanggil ke tempat itu. Yang tersisa hanyalah perasaan ganjil yang sulit dijelaskan. Seolah ia sedang berjalan menuju pintu yang sejak lama telah menunggunya. Pintu yang selama ini berada di hadapannya, tetapi baru sekarang cukup terbuka untuk memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
Sepanjang perjalanan menuju pusat pemerintahan, pikirannya masih dipenuhi percakapan malam itu. Surya yang tetap teguh mempertahankan keyakinannya. Yusuf yang mulai goyah. Hana yang tidak lagi yakin pada jawabannya sendiri. Dan Ravian yang memilih mempertahankan pertanyaan daripada terburu-buru mencari kesimpulan.
Mereka semua berangkat dari tujuan yang sama. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin jauh jalan yang mereka tempuh satu sama lain. Mungkin memang begitulah sifat kebenaran, yang tidak selalu menyatukan manusia. Kadang-kadang justru memperlihatkan betapa berbedanya cara setiap orang memahami dunia.
Presiden menunggunya di ruangan yang sama seperti sebelumnya, yaitu di ruang kerja sederhana yang lebih terlihat seperti perpustakaan pribadi daripada kantor orang paling berkuasa di Aisenodni. Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding. Tumpukan dokumen tersusun rapi di beberapa meja. Dan di dekat jendela, secangkir teh yang sudah mulai kehilangan uapnya masih dibiarkan tergeletak tanpa disentuh. Presiden tampak lebih santai dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Bahkan untuk sesaat, beliau terlihat lebih seperti seorang guru tua daripada kepala negara.
"Kau tampak lelah," katanya ketika Elian masuk.
Elian tersenyum tipis. "Kurasa saya mulai mengerti kenapa para sejarawan sering terlihat lebih tua dari usia mereka."
Presiden tertawa kecil. "Tidak. Itu bukan karena sejarah."
Beliau mempersilakan Elian duduk. "Itu karena mereka terlalu sering memikirkan manusia."
Beberapa saat mereka hanya berbincang ringan. Tentang arsip, buku, hal-hal kecil yang tidak berhubungan dengan Genesis. Namun Elian mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari pertemuan kali ini. Presiden beberapa kali terdiam lebih lama dari biasanya. Pandangannya kerap beralih ke luar jendela. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang telah lama berada di benaknya. Hingga akhirnya beliau membuka percakapan yang sebenarnya.
"Masa jabatanku akan segera berakhir," katanya.
Elian mengangguk, sebab ia memang mengetahui hal itu. Dalam beberapa bulan, negara akan memasuki masa transisi kepemimpinan berikutnya. Sesuatu yang selama ini berlangsung tenang dan nyaris tanpa gejolak.
"Tahukah kau apa yang paling aneh tentang kekuasaan?" tanya Presiden.
Elian menggeleng.
"Semua orang mengira kekuasaan berarti kemampuan menentukan masa depan." Beliau tersenyum samar. "Padahal sebagian besar waktunya justru digunakan untuk menyadari bahwa masa depan tidak pernah benar-benar bisa dimiliki."
Ruangan itu kembali sunyi. Angin dari luar jendela berembus sepoi, menggoyangkan tirai tipis yang menggantung di sisi ruangan. Untuk beberapa saat, Elian hanya mendengarkan. Instingnya mengatakan bahwa Presiden sedang mengarah pada sesuatu yang penting. Sesuatu yang lebih penting daripada seluruh percakapan mereka sebelumnya.
"Aku sudah menjaga arsip itu selama bertahun-tahun," lanjut Presiden. "Presiden-presiden sebelumku juga melakukan hal yang sama."
Beliau menatap langsung ke arah Elian. "Dan setiap generasi selalu menghadapi pertanyaan yang sama."
Pertanyaan. Lagi-lagi pertanyaan. Elian mulai menyadari, seluruh sejarah Aisenodni tampaknya dibangun di atas pertanyaan yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab.
"Apa pertanyaannya?" tanya Elian.
Presiden tersenyum, lalu menjawab pelan, "Apakah kita masih berhak mempertahankan pilihan yang dibuat orang-orang yang telah lama meninggal?"
Kalimat itu membuat Elian terdiam. Karena untuk pertama kalinya, pertanyaan tersebut tidak lagi diarahkan kepada masa lalu, tapi diarahkan ke masa kini. Kepada generasi mereka, orang-orang yang hidup hari ini, mereka yang menikmati kedamaian yang diwariskan Genesis, tetapi tidak pernah ikut memilihnya.
Presiden bangkit dari kursinya, berjalan menuju lemari kayu besar yang berada di sudut ruangan. Lemari itu tampak tua. Jauh lebih tua daripada perabot lain di sekitarnya. Kayunya menghitam dimakan usia. Namun kondisinya masih terawat dengan baik. Dengan gerakan pelan, Presiden membuka pintunya. Dan Elian langsung membeku, sebab di dalamnya tersimpan puluhan kotak arsip. Masing-masing diberi segel resmi negara. Masing-masing diberi kode yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebagian berisi dokumen, yang lain berisi rekaman, sisanya tampak seperti jurnal pribadi. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang pernah diperlihatkan di ruang arsip bawah tanah. Jauh lebih lengkap. Jauh lebih besar. Seolah seluruh sejarah tersembunyi bangsa itu diringkas ke dalam satu tempat.
"Apa ini?" bisik Elian.
Presiden memandang deretan arsip tersebut dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Ada kebanggaan di sana, pula kesedihan. Dan ada kelelahan yang sangat tua.
"Inilah," jawabnya. "Semua yang kita miliki."
Elian merasa jantungnya berdetak lebih cepat. "Termasuk arsip Genesis?"
"Ya."
"Termasuk referendum?"
"Ya."
"Termasuk catatan para ilmuwan?"
Presiden mengangguk. "Termasuk surat-surat pribadi para pendirinya."
Elian terdiam, lalu Presiden mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga. Sesuatu yang membuat seluruh ruangan terasa mendadak jauh lebih sunyi.
"Aku ingin kau mempelajarinya."
Untuk sesaat, Elian mengira dirinya salah dengar.
"Maksud Anda … saya?"