Malam ketika Elian selesai membaca arsip terakhir, ia tidak langsung tidur. Ia duduk sendirian di apartemennya hingga dini hari, ditemani lampu meja yang menyala redup dan tumpukan catatan yang memenuhi hampir seluruh ruang kerja. Di hadapannya terbentang seratus tahun sejarah. Seratus tahun kebohongan. Seratus tahun perlindungan. Seratus tahun pengorbanan. Dan semakin banyak yang ia baca, semakin mustahil baginya membagi semuanya ke dalam dua kotak sederhana bernama benar dan salah. Karena para pencipta Genesis bukanlah tiran yang haus kuasa. Namun mereka juga bukan nabi yang tak mungkin keliru. Mereka manusia, sama seperti dirinya. Sama seperti jutaan warga Aisenodni yang hidup hari ini. Manusia yang dipaksa membuat keputusan ketika tidak ada pilihan yang benar-benar baik.
Ketika matahari terbit, Elian akhirnya menyadari satu hal, bahwa ia tidak berhak memutuskan masa depan bangsa itu sendirian. Presiden tidak berhak. Para Pengingat tidak berhak. Bahkan para ilmuwan Genesis yang telah lama meninggal pun tidak berhak. Karena jika ada satu pelajaran yang terus berulang dalam seluruh arsip yang telah dibacanya, maka pelajaran itu adalah bahwa tidak ada manusia yang cukup bijaksana menentukan nasib seluruh generasi berikutnya tanpa memberi mereka kesempatan berbicara. Maka pagi itu, ia meminta bertemu Presiden.
Mereka kembali duduk di ruang kerja yang sama.
"Aku sudah memutuskan," kata Elian.
Presiden mengangguk pelan, sebab beliau telah menunggu kalimat itu.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Elian menarik napas panjang, kemudian menjawab, "Buka semuanya."
Presiden tidak langsung bereaksi.
Elian melanjutkan. "Seluruh arsip, sejarah, kebenaran."
Tatapannya tetap mantap. "Lalu biarkan rakyat memutuskan."
Kesunyian memenuhi ruangan. Beberapa detik berlalu, Presiden tersenyum. Bukan senyum terkejut, pula bukan senyum kemenangan. Lebih terlihat seperti senyum seseorang yang akhirnya melihat lingkaran kembali ke titik awalnya.
"Referendum," gumamnya.
Elian mengangguk. "Referendum."
Presiden berjalan menuju jendela. Untuk beberapa saat beliau memandangi kota yang terbentang di bawah sana. Kota yang lahir dari keputusan referendum seratus tahun lalu. Kota yang kini akan kembali dihadapkan pada mekanisme yang sama. Dan ketika beliau akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih ringan daripada sebelumnya.
"Mungkin memang sudah waktunya."
Yang paling mengejutkan Elian bukanlah persetujuan Presiden, tapi apa yang terjadi setelahnya. Tidak ada perlawanan, upaya membungkamnya, rapat darurat, operasi rahasia untuk menghentikan rencananya. Pemerintah justru bergerak lebih cepat daripada yang ia bayangkan. Dalam hitungan hari, pengumuman nasional disampaikan kepada seluruh warga. Arsip-arsip yang selama satu abad disimpan di bawah lapisan kerahasiaan mulai dibuka secara bertahap.