AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #38

Suara yang Berbeda

Matahari baru saja muncul ketika Elian meninggalkan apartemennya. Udara pagi terasa lebih ramai daripada biasanya karena kota itu dipenuhi sesuatu yang belum pernah benar-benar didengar sebelumnya, yaitu percakapan. Di halte transportasi umum, orang-orang berdiskusi sambil menunggu kendaraan datang. Di kedai kopi, pelanggan memperdebatkan hasil referendum yang bahkan belum dimulai. Di taman kota, sekelompok lansia berbicara tentang arsip-arsip yang mereka baca selama beberapa minggu terakhir. Tidak ada teriakan atau ancaman. Tidak ada kebencian yang meluap. Namun ada sesuatu yang terasa baru. Suara manusia yang tidak lagi bergerak dalam satu irama.

Di dekat pusat pemungutan suara pertama yang dilewatinya, Elian melihat sekelompok mahasiswa berkumpul di bawah pohon besar. Mereka membawa salinan dokumen-dokumen sejarah. Sebagian tampak bersemangat, sebagian tampak cemas, sebagian lagi masih terlihat ragu. Seorang pemuda berambut keriting berbicara dengan nada penuh keyakinan.

"Kalau kita mempertahankan Genesis, berarti kita membiarkan orang-orang yang hidup seratus tahun lalu terus menentukan siapa diri kita."

Di hadapannya, seorang perempuan muda menggeleng. "Dan kalau kita menghapusnya, bagaimana kalau kita mengulangi kesalahan yang sama?"

"Takut bukan alasan untuk kehilangan kebebasan."

"Dan kebebasan bukan alasan untuk mengabaikan sejarah."

Perdebatan itu berlangsung beberapa menit. Tak ada yang menang. Tak ada yang menyerah. Ketika akhirnya mereka masuk ke pusat pemungutan suara, mereka melakukannya sambil tetap berbincang. Elian memperhatikan mereka hingga menghilang di balik pintu gedung, lalu melanjutkan langkahnya.

Di sepanjang jalan, pemandangan serupa terus berulang. Di sebuah pasar, dua pedagang saling berdebat mengenai hasil referendum yang mereka harapkan. Di depan perpustakaan kota, seorang profesor berbicara dengan seorang pekerja pabrik tentang hak generasi sekarang untuk menentukan masa depannya sendiri. Di dalam kendaraan umum, seorang ibu muda menjelaskan kepada anaknya mengapa seluruh negeri melakukan pemungutan suara.

"Apa yang akan terjadi kalau pendapat orang berbeda?" tanya anak itu.

Sang ibu tersenyum. "Ya memang begitu seharusnya," jawabnya.

Kalimat sederhana itu membuat Elian menoleh. Karena di dalam kesederhanaannya, tersimpan sesuatu yang terasa lebih berharga daripada seluruh pidato politik yang pernah ia dengar.

Selama hidupnya, ia hampir tidak pernah melihat masyarakat berbeda pendapat dalam skala sebesar ini karena selama beberapa generasi, kehidupan mereka bergerak begitu harmonis hingga perbedaan besar nyaris tidak pernah terjadi. Kini, untuk pertama kalinya, jutaan manusia sedang mempertimbangkan masa depan yang berbeda-beda. Dan ternyata dunia tidak runtuh karenanya. Tidak ada kota yang terbakar, tidak ada kelompok yang saling menyerang, tidak ada pula pemimpin yang menyerukan kebencian. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang sedang belajar menghadapi kenyataan bahwa orang lain mungkin melihat dunia secara berbeda.

Menjelang siang, Elian tiba di sebuah alun-alun yang ramai. Di tengah kerumunan itu, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Dua lelaki tua sedang berdebat. Bukan diskusi santai ataupun percakapan ringan. Perdebatan mereka sungguh-sungguh sengit. Suara keduanya beberapa kali meninggi. Tangan mereka bergerak aktif. Sesekali salah satu menggeleng dengan frustrasi. Orang-orang di sekitar memperhatikan dengan cemas. Namun tak seorang pun ikut campur. Karena tidak ada kebencian di sana. Hanya keyakinan yang berbeda.

"Aku akan memilih menghentikan Genesis," kata lelaki pertama.

"Sementara aku akan memilih mempertahankannya," jawab yang lain.

"Karena aku ingin cucuku menentukan hidupnya sendiri."

Lihat selengkapnya