Manusia sering membayangkan perubahan sebagai ledakan. Sebuah momen ketika dunia lama runtuh sekaligus, lalu digantikan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dalam cerita-cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, revolusi selalu terdengar seperti petir yang membelah langit. Cepat. Dramatis. Tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Namun kehidupan jarang bergerak dengan cara yang begitu sederhana. Kadang-kadang perubahan terbesar justru terjadi ketika dunia tetap berdiri sebagaimana adanya, tetapi manusia yang hidup di dalamnya mulai melihatnya dengan mata yang berbeda. Dan sering kali, itulah perubahan yang paling sulit diterima.
Malam penghitungan suara berlangsung lebih sunyi daripada yang dibayangkan banyak orang. Tidak ada lautan manusia yang memenuhi jalan. Tidak ada panggung-panggung besar. Tidak ada pula sorak-sorai yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Aisenodni menunggu dengan cara yang khas bagi bangsa yang terlalu lama hidup dalam ketertiban. Mereka menunggu di rumah, di kedai kopi, di taman-taman kota, di pusat-pusat komunitas. Mereka menunggu di depan layar yang menampilkan hasil sementara dari seluruh wilayah negara. Dan semakin malam bergerak menuju dini hari, semakin jelas bahwa bangsa itu sedang berjalan menuju keputusan yang tidak diperkirakan oleh banyak orang.
Elian berada di pusat informasi nasional bersama Ravian, Hana, Yusuf, Bima, dan beberapa anggota Para Pengingat lainnya. Mereka berdiri di antara ratusan orang yang memperhatikan layar besar di dinding. Tak seorang pun banyak berbicara. Angka-angka terus bergerak. Wilayah demi wilayah melaporkan hasilnya. Sebagian memilih menghentikan Genesis. Sebagian memilih mempertahankannya. Pada jam-jam pertama, perbedaannya begitu tipis hingga hampir mustahil ditebak ke mana arah akhirnya. Namun menjelang tengah malam, pola tertentu mulai terlihat. Perlahan seperti arus laut yang mula-mula tidak disadari sebelum akhirnya menggeser seluruh kapal.
"Sepertinya sudah mulai jelas," gumam Hana.
Tak ada yang menjawab. Karena semua orang bisa melihat hal yang sama. Persentase pendukung Genesis terus bertambah. Tidak melonjak ataupun mendominasi, tetapi cukup konsisten untuk membentuk jarak yang semakin sulit dikejar.
Elian memandangi angka-angka itu tanpa kedip. Entah mengapa ia tidak merasa terkejut. Mungkin karena selama beberapa minggu terakhir ia telah melihat sendiri bagaimana masyarakat bereaksi terhadap arsip-arsip sejarah. Mereka melihat sendiri neraka yang pernah melahap bangsa itu. Dan setelah melihatnya, banyak orang mulai mengajukan pertanyaan yang sama. Jika berada di posisi leluhur mereka, apakah mereka akan memilih berbeda?
Menjelang pukul dua dini hari, hasil akhir diumumkan. Seluruh ruangan menjadi sunyi. Begitu sunyi hingga Elian merasa bisa mendengar napas orang-orang di sekitarnya. Layar besar menampilkan angka final. Mayoritas rakyat Aisenodni memilih mempertahankan Proyek Genesis. Tak ada sorakan dan tangisan. Hanya kesunyian panjang yang dipenuhi berbagai macam perasaan yang sulit dipisahkan satu sama lain. Kelegaan, kekecewaan, kebingungan, harapan. Dan mungkin sedikit kesedihan. Karena apa pun hasilnya, suatu bangsa baru saja memutuskan nasibnya sendiri.
Elian tetap menatap layar. Untuk beberapa saat, ia tidak tahu apa yang harus dirasakan. Selama berbulan-bulan ia membongkar rahasia yang tersembunyi selama satu abad. Ia memasuki arsip-arsip yang terlupakan. Menemukan kebohongan, pengorbanan, sejarah yang sengaja dikubur. Dan jauh di dalam dirinya, mungkin ada bagian kecil yang berharap semua itu berakhir dengan perubahan besar. Dengan runtuhnya Genesis. Dengan lahirnya dunia baru. Namun angka-angka di layar menunjukkan sesuatu yang berbeda. Dunia tidak berubah seperti yang dibayangkannya. Setidaknya tidak dengan cara itu.
"Apa kau kecewa?" Suara Ravian terdengar di sampingnya.
Elian tidak langsung menjawab. Ia memerlukan beberapa detik untuk jujur kepada dirinya sendiri.
"Sedikit," katanya akhirnya.
Ravian mengangguk. Seperti telah menduga jawaban tersebut.
"Itu wajar."
"Tapi aku juga tidak yakin," lanjut Elian.
Ia masih memandang layar.
"Aku tidak tahu apakah aku kecewa pada hasilnya," ia menarik napas panjang, "atau kecewa karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan."
Ravian tersenyum tipis. Dan untuk sesaat, lelaki tua itu tampak lebih lega daripada sebelumnya.