Waktu ternyata tidak bergerak seperti yang dibayangkan manusia. Ketika seseorang masih muda, ia tampak berjalan lambat seperti pengembara tua yang kelelahan menyeberangi gurun. Hari-hari terasa panjang. Minggu-minggu terasa seperti musim. Tahun-tahun seolah membutuhkan selamanya untuk tiba di penghujung. Namun setelah usia mulai mengumpulkan kenangan demi kenangan seperti debu yang menempel di rak-rak tua, waktu mendadak berubah jadi sungai yang diam-diam berlari di bawah jembatan. Tidak bersuara. Tidak meminta izin. Tahu-tahu seseorang menoleh dan menemukan bahwa dunia telah berganti beberapa kali tanpa pernah benar-benar ia sadari. Begitulah yang dirasakan Elian ketika ia berdiri di depan jendela apartemennya pada suatu pagi yang tenang.
Di luar sana, Aisenodni masih tampak damai. Kereta-kereta meluncur tepat waktu. Anak-anak berjalan menuju sekolah. Orang-orang memenuhi taman kota. Para pedagang membuka kios mereka. Sementara matahari naik perlahan di antara gedung-gedung yang berkilau seperti lembaran logam yang baru dipoles. Segalanya terlihat biasa. Sangat biasa hingga sulit dipercaya bahwa beberapa tahun sebelumnya bangsa itu pernah berada di persimpangan sejarah.
Banyak hal telah berubah sejak referendum. Dan banyak pula yang tidak. Genesis masih ada. Namun kini ia hidup dalam bentuk yang berbeda. Tidak lagi seperti rahasia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tidak lagi seperti keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang telah lama jadi debu. Setiap anak mempelajari sejarah asli bangsa mereka, mengetahui tentang Abad Pertikaian, tentang perang-perang saudara, tentang kota-kota yang musnah, tentang jutaan manusia yang mati sebelum sempat menikmati masa depan.
Mereka juga mengetahui tentang Genesis dan alasan mengapa program itu diciptakan. Tentang perdebatan panjang yang melahirkannya. Tentang referendum yang mempertahankannya. Dan yang paling penting, mereka mengetahui bahwa suatu hari nanti keputusan itu akan menjadi milik mereka sendiri. Tidak ada lagi kebenaran yang disembunyikan, pintu arsip yang terkunci, sejarah yang hanya boleh diketahui segelintir orang.
Para Pengingat perlahan berubah jadi sesuatu yang berbeda belaka. Mereka tidak lagi bergerak sebagai kelompok yang mencari rahasia. Karena tidak ada lagi rahasia yang perlu dicari. Sebagian menjadi pengajar, sebagian lain menjadi penulis, sebagian memilih menjalani masa tua mereka dengan tenang.
Surya meninggal dua tahun setelah referendum karena usia yang akhirnya meminta haknya. Dalam surat terakhir yang ditinggalkannya kepada Ravian, ia menulis satu kalimat yang kemudian sering dikutip banyak orang.
“Aku tidak mendapatkan dunia yang kuinginkan. Tetapi aku mendapatkan dunia yang boleh memilih jalannya sendiri.”
Kalimat itu entah bagaimana terasa lebih indah daripada kemenangan.
Ravian sendiri masih hidup. Rambutnya semakin putih. Punggungnya semakin membungkuk. Namun pikirannya tetap setajam dulu. Sesekali Elian masih mengunjunginya untuk berbicara tentang banyak hal. Namun semakin tua mereka, semakin jarang pembicaraan itu berakhir pada jawaban. Dan semakin sering berakhir pada tawa. Karena setelah bertahun-tahun mencari kebenaran, mereka akhirnya memahami bahwa sebagian pertanyaan memang tidak diciptakan untuk diselesaikan. Hanya untuk terus ditanyakan.
Dan di antara semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya, satu perubahan terasa paling besar. Perempuan yang dulu berdiri di hadapannya sambil mempertanyakan apakah semua kebenaran perlu dibuka kepada dunia kini sedang tertidur di kamar mereka.
Lyra.
Perempuan yang pernah membuatnya marah, yang pernah membuatnya ragu, yang pernah membuatnya mempertanyakan seluruh keyakinannya sendiri. Dan justru karena itulah ia tidak pernah berhenti mencintainya. Karena seiring waktu berlalu, Elian menyadari bahwa hidup bersama seseorang bukan berarti menemukan orang yang selalu sepakat dengan kita. Namun menemukan seseorang yang tetap memilih tinggal meskipun ia mengetahui seluruh bagian diri kita yang tidak sempurna.
Pagi itu, Lyra terbangun lebih awal daripada biasanya. Dan untuk sesaat mereka hanya saling memandang tanpa banyak kata.
Beberapa bulan sebelumnya mereka mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak. Kini hari itu akhirnya tiba. Hari ketika mereka harus berangkat ke rumah sakit, ketika seseorang yang belum pernah melihat dunia akan mulai menjadi bagian darinya, ketika seluruh sejarah yang pernah dikejar Elian mendadak terasa sangat dekat dan sangat pribadi.
Bukan lagi persoalan bangsa, filsafat, atauapun masa lalu. Namun persoalan seorang ayah yang akan menatap wajah anaknya untuk pertama kali. Dan ketika kendaraan yang membawa mereka bergerak menuju rumah sakit di bawah langit pagi Aisenodni yang cerah, Elian tidak memikirkan referendum. Ia hanya memikirkan satu hal, bahwa sebentar lagi, seseorang akan memanggilnya ayah.