AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #41

Tahun 2200

Seratus tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk mengubah hampir segalanya. Ia dapat menghapus nama-nama dari batu nisan. Mengubah sungai dari jalurnya. Merobohkan bangunan yang pernah dianggap abadi. Mengubah bahasa, kebiasaan, cara manusia memahami diri sendiri. Namun ada beberapa hal yang tampaknya selalu berhasil bertahan melampaui waktu. Pertanyaan, misalnya. Pertanyaan memiliki kebiasaan aneh untuk terus hidup bahkan setelah orang-orang yang pertama kali mengucapkannya sudah lama jadi debu. Ia berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti nyala api kecil yang tidak pernah benar-benar padam. Kadang redup, kadang membesar, tetapi selalu ada, menunggu seseorang untuk kembali memperhatikannya.


Pagi itu, Museum Sejarah Nasional dipenuhi pengunjung. Anak-anak sekolah berjalan berkelompok mengikuti pemandu. Para mahasiswa mencatat keterangan dari berbagai koleksi. Beberapa wisatawan asing berdiri lama di depan arsip-arsip yang dulu pernah mengubah arah sejarah dunia. Sementara di aula utama, tepat di bawah kubah kaca yang membiarkan cahaya matahari jatuh seperti hujan keemasan dari langit, berdiri sebuah ruangan yang paling sering dikunjungi, sebab yang dipamerkan di sana hanyalah selembar formulir biasa. Begitu biasa hingga pengunjung yang tidak mengetahui sejarahnya mungkin akan mengira bahwa benda tersebut tidak pantas ditempatkan di museum terbesar negara.

Kertasnya sudah menguning dimakan usia. Beberapa sudutnya memperlihatkan bekas lipatan. Tulisan digital yang dulu tersimpan di dalam sistem telah direkonstruksi dan ditampilkan berdampingan dengan dokumen aslinya. Tidak ada tanda tangan presiden, tidak ada cap negara, tidak ada deklarasi perang, tidak ada perjanjian internasional. Hanya sebuah formulir persetujuan medis. Dan justru karena kesederhanaannya itulah benda tersebut jadi begitu penting.

Di depan kaca pelindung yang mengurung dokumen itu, seorang anak laki-laki berdiri sambil mendongakkan kepala. Usianya mungkin sekitar sepuluh tahun. Seragam sekolahnya masih tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Di dadanya tergantung kartu identitas kunjungan museum. Ia membaca setiap keterangan yang tertera di samping artefak itu dengan kesungguhan yang hanya dimiliki anak-anak ketika mereka menemukan sesuatu yang benar-benar membuat mereka penasaran.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan: Ibunya. Mereka baru saja menyelesaikan tur panjang yang menceritakan sejarah Aisenodni. Tentang Abad Pertikaian, Genesis, referendum, juga tentang generasi yang memutuskan hidup dengan kebenaran alih-alih bersembunyi darinya. Namun dari seluruh benda yang mereka lihat hari itu, anak tersebut justru paling tertarik pada formulir sederhana di balik kaca.

"Bu," panggilnya.

Perempuan itu menoleh. "Ya?"

Anak tersebut menunjuk ke arah dokumen itu. "Jadi … Ayah Elian memilih yang mana?"

Ibunya tersenyum kecil. Bukan senyum seseorang yang mengetahui jawabannya. Namun justru senyum seseorang yang pernah mengajukan pertanyaan yang sama ketika masih seusia anak itu.

"Tidak ada yang tahu," jawabnya.

Anak tersebut mengernyitkan dahi. "Benar-benar tidak tahu?"

"Tidak."

"Tapi bukankah itu tercatat?"

Perempuan itu menggeleng. "Catatan aslinya sengaja dihapus sesuai permintaan Elian dan keluarganya."

Anak itu tampak semakin bingung. Bagi generasi yang tumbuh di zaman ketika hampir segala sesuatu terdokumentasi, gagasan tentang keputusan penting yang sengaja tidak diwariskan terasa sulit dipahami.

Lihat selengkapnya