AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #42

Bab Tambahan: Jejak dari Luar Tembok

Tahun 2102

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu Elian setelah berhari-hari membaca arsip Istana. Pertanyaan itu sederhana.

Jika Genesis benar-benar telah mengubah jalannya sejarah selama satu abad, bagaimana mungkin tidak ada seorang pun yang pernah menemukan jejaknya?

Suatu negara tidak hidup sendirian. Negara berdagang, berkomunikasi, dikunjungi, diamati. Dan sejarah mengajarkan bahwa semakin besar rahasia, semakin sulit disembunyikan dari dunia luar. Maka pada suatu sore, ketika hujan tipis membasahi jendela Arsip Nasional, Elian mengajukan pertanyaan itu kepada Presiden.

"Apakah tidak ada orang luar yang pernah mencurigai Genesis?"

Presiden tidak langsung menjawab, hanya menatap rak-rak arsip yang menjulang hingga langit-langit ruangan, kemudian berjalan menuju lemari kecil yang berdiri terpisah dari koleksi lainnya. Di atas pintunya tertulis label sederhana: PENGAMAT LUAR.

"Justru sebaliknya," kata Presiden. "Banyak yang mencurigainya."

Di dalam lemari itu tidak terdapat dokumen rahasia negara. Tidak ada laporan intelijen ataupun berkas penyelidikan. Yang ada hanyalah buku berjumlah ratusan. Novel, catatan perjalanan, penelitian sejarah, kumpulan puisi, esai filsafat, bahkan naskah drama. Semuanya ditulis oleh orang-orang yang tidak pernah menjadi warga Aisenodni. Orang-orang yang datang dari luar. Orang-orang yang hanya melihat negeri itu dari kejauhan atau singgah sebentar sebelum kembali pulang.

Elian mengambil salah satunya. Sebuah buku sejarah yang diterbitkan hampir tujuh puluh tahun lalu. Di salah satu halamannya terdapat kalimat yang digarisbawahi.

"Aisenodni adalah anomali dalam sejarah manusia. Negara ini menikmati stabilitas yang terlalu panjang untuk dianggap normal."

Ia membuka buku lain, kali ini novel. Tokoh utamanya seorang pengelana yang datang ke Aisenodni dan merasa terganggu karena tidak pernah menemukan orang yang benar-benar marah. Di halaman terakhir, sang tokoh berkata: "Barangkali negeri ini telah mengorbankan sesuatu yang tidak dapat kulihat."

Elian perlahan menutup buku itu, lalu mengambil yang berikutnya, dan yang berikutnya lagi. Semakin banyak ia membaca, semakin jelas pola yang muncul. Tak seorang pun mengetahui Genesis secara pasti. Tak seorang pun memiliki bukti. Namun banyak yang merasakan ada sesuatu yang tidak biasa. Sejarawan mempertanyakannya, antropolog menelitinya, sastrawan menuliskannya, filsuf memperdebatkannya. Mereka tidak sampai pada jawaban yang sama. Namun mereka semua mengajukan pertanyaan serupa. Mengapa masyarakat Aisenodni berbeda? Mengapa tingkat kekerasan mereka hampir nol? Mengapa tidak pernah muncul tokoh-tokoh yang haus kekuasaan? Mengapa konflik sosial selalu mereda sebelum berkembang menjadi krisis?

Dan yang paling sering ditanyakan: Berapa harga yang harus dibayar untuk kedamaian semacam itu?

"Jadi mereka sebenarnya sudah tahu?" tanya Elian.

Presiden menggeleng. "Tidak. Mereka hanya menduga."

Beliau mengambil salah satu buku tua dari rak paling bawah, yang sampulnya memudar dimakan usia. Penulisnya adalah sejarawan asing yang hidup beberapa dekade setelah Genesis dimulai. Di halaman terakhir terdapat kesimpulan yang tidak pernah terbukti.

"Mungkin suatu hari arsip-arsip yang hilang akan ditemukan. Jika itu terjadi, kita akan mengetahui bahwa keajaiban terbesar dalam sejarah manusia tidak pernah benar-benar ajaib."

"Itu ditulis delapan puluh tahun lalu," kata Presiden. "Dan sampai hari ini, penulisnya tidak pernah tahu bahwa ia hampir benar."

Elian duduk dalam diam, menyadari sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Genesis memang disembunyikan. Namun tidak pernah benar-benar hilang. Bayangannya tetap ada. Jejaknya tetap tertinggal. Bukan dalam dokumen resmi, tapi justru dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang cukup jeli untuk melihat bahwa ada sesuatu yang ganjil di balik kesempurnaan.

Sejarah rupanya punya cara sendiri untuk melawan penghapusan. Kadang melalui arsip, cerita, orang-orang yang bahkan tidak mengetahui apa yang sedang mereka cari.

"Kenapa buku-buku ini tidak pernah dilarang?" tanya Elian.

Lihat selengkapnya