Aisha

Siti Ulumiah
Chapter #2

Flashback: Makna Terdalam di Balik Tergigit Tikus

Masih dalam ketakutan, tiba-tiba ia mengingat kejadian tentang tikus di masa kecilnya, rekaman memori di masa itu terputar kembali ke tahun 2001 saat Aisha berusia tujuh tahun. 

Di kasur lipat Aisha bersama kakak dan adik-adiknya tidur berdempetan sudah seperti ikan asin, posisi kaki masing-masing tak beraturan, silih menendang, begitu pun dengan tangan saling memukul ke wajah satu sama lain, belum lagi suara mendengkur yang berasal dari sang kakak, ia Aa Azzam yang sangat mengganggu, terutama Aisha yang sedari tidur menutup kupingnya dengan bantal. Abah dan Umi mereka ada di kasur yang lumayan empuk, bersama dengan si bungsu. Ketenangan terlukis di wajah-wajah anak-anak manis ini, serta puih keringat perjuangan Umi dan Abah masih terlihat begitu jelas, bahkan tak akan pernah hilang. Dalam tidur yang lelap itu, adzan subuh sudah berkumandang di masjid yang ada di belakang rumah mereka. Abah yang begitu nyenyak tidur, terbangun, bergegas ke kamar mandi bersiap-siap sembahayang. Ketika air kran terdengar di kamar mandi, Aisha tiba-tiba terbangun, detik itu pula ia menangis memandangi jari kirinya berlumuran darah. “Umi... Abah, tangan Aisha berdarah...” Sontak yang lainnya ikut terbangun, kecuali Azzam, ia masih saja tidur tak terganggu oleh tangisan Aisha. Saat adik-adiknya bangun, mereka pun ikut menangis melihat jari-jarinya berdarah juga. “Tangan aku juga berdalaaah...” Rintih Tifa yang masih belum bisa mengucapkan huruf ‘R’ itu memegangi jarinya yang penuh darah.

Aisha yang sedang menangis itu, mulai melirik ke jari-jari adiknya juga yang berdarah, tetapi ia kembali menangis. Aisha terus memegangi jari yang berselimut darah itu, sembari menatap pilu ke jarinya yang seakan hilang. Umi terkejut melihat jari anak-anaknya berdarah, ketika Umi akan menghampiri anak-anaknya ini, tiba-tiba Siddan menangis. Mata Umi sepontan mengarah ke Siddan yang ada di sebelahnya, ia kembali berbaring memberikan asi, lalu berteriak memanggil Abah, “Abah! Ini anak-anak jarinya berdarah!” Abah tak kunjung menjawab, Umi pun terus mengulang memanggil Abah. Hingga pada panggilan ke tiga akhirnya Abah muncul di depan pintu kamar dengan handuk yang ia sematkan di pinggang, tanpa sehelai baju. Belum sampai ujung lidah Abah baru akan mengucapkan apa-apa, Aisha dan Tifa serempak meringis padanya. “Abaaaaahhhhhhhh..... jarinya berdarah!” masih-masing dari mereka menyodorkan tangan yang penuh darah itu ke hadapan Abah. Abah dengan santainya menjawab “Iya, bentar, ya, Abah pakai baju dulu.” Aisha diikuti adiknya ini menganggukkan kepala pelan, dengan wajah yang merah padam, dipenuhi air mata yang tak hentinya mengalir.

***

Abah sudah rapih pakai baju koko, sarung dan peci. Aisha dan adik-adiknya yang masih memegangi jari itu, dengan tangisan yang kian nyaring. Mereka berdua duduk berdampingan sudah seperti mengantre di rumah sakit, menunggu dokternya memanggil. Mereka terus memandangi Abah yang ada di ruang tengah, sedang sibuk dengan buku yang dipegangnya. Mata jernih mereka penuh harap. Abah yang diharapkan pun akhirnya menghampiri mereka. Aisha dan adiknya kembali menyodorkan jari-jari munggil yang malang itu. Abah membungkukkan badannya sembari mengatakan, “Nanti ya, Abah mau shalat dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari anak-anaknya ini, Abah bergegas keluar, pergi ke masjid. Tangisan yang semakin dahsyat pun keluar dari Aisha dan Tifa. Siddan yang sudah terlelap lagi setelah meminum susu itu, akhirnya terbangun lagi saat mendengar tangisan kedua kakaknya ini. Umi yang tertidur lagi pun, ikut terbangun lagi. Wajah Umi sudah begitu geram, ia pun menggendong Siddan, lalu menghampiri kakak-kakaknya ini. Tepat di hadapan mereka yang masih duduk bersila itu, Umi berteriak.

“Kalian itu ya, nangis mulu, nangis mulu. Abah-nya kan lagi mau shalat dulu. Ini juga

 Aisha, jadi Tetehnya bukannya obatin sendiri lukanya. Malah ikut-ikutan nangis. Tunggu Abah pulang. Umi mau ngobatinnya susah, adik kalian nangis terus, ya, gara-gara kalian berisik banget.”

Lihat selengkapnya