Sepuluh menit sudah Widya menunggu di luar kamar. Selama itu juga ia bingung, sebenarnya apa yang sedang dilakukan bosnya itu di dalam sana dan siapa yang sedang dijenguk? Apa ada hubungannya dengan dia? Bukankah kemarin di kantor dia tidak membuat kesalahan?. Namun, mengapa bosnya itu membawa dirinya sampai di lantai ini?. Pertanyaan demi pertanyaan yang ada dipikirannya itu membuat Widya melamun.
"Jangan bengong, Widya!
Untuk kedua kalinya Widya tersentak gara-gara Mada, tapi kali ini bukan tangannya yang tiba-tiba dipegang tetapi karena pintu kamar yang dibuka pria itu. Entah apa yang akan dia lakukan. Mada tiba-tiba menyuruhya masuk ke dalam kamar.
"Widya, cepat masuk!"
Sekali lagi gadis itu melongo, tapi segera saja dia menyadarinya. Lalu ia bergegas memasuki kamar atas perintah bosnya. Untuk pertama kalinya gadis itu masuk ke kamar VVIP rumah sakit. Widya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Baginya ini bukan kamar untuk orang sakit, melainkan kamar hotel yang berkamuflase menjadi kamar inap untuk orang sakit.
"Kamu ngapain matung di situ. Cepat ke sini temui Oma,"
"Hah, Oma! Sejak kapan aku kenal omanya Pak Mada?" gumamnya dalam hati.
"Ayo cepat sini Ara. Jangan lambat kayak kura-kura dong,"
Mendengar nama Ara yang disebut secara spontan Widya pun celingak-celinguk. Perasaan hanya ada dia dan Mada, tapi kenapa pria itu memanggil dirinya dengan panggilan Ara. Dengan nada yang sangat lirih. Widya pun menjawab.
"Bapak panggil saya?"
Mada tak bisa mendengar apa yang diucapkan karyawannya itu. Namun, dia mampu membaca gerakan bibir Widya sehingga Mada pun mengerti apa yang gadis itu maksud. Setelah melihat anggukan kepala bosnya. Widya mendekat melihat secara langsung seseorang yang bosnya panggil dengan sebutan Oma.