Widya sudah berpakaian rapi dan berdandan cantik. Tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Jika dia mendapatkan jadwal shif pagi dari kantornya. Ratna teman kost dan sejawatnya tak menaruh curiga. Jika teman dekatnya itu hari ini akan bekerja di rumah sakit untuk menemani nenek bosnya. Saat ini di dalam kamar kost keduanya sedang sarapan nasi uduk langganan nasi uduk Mak Rum.
"Tumben banget hari gini udah rapi, wangi lagi. Kamu mau kerja apa pacaran sih, Wid?"
"Kerjalah, Mbak. Masa pacaran pagi-pagi. Bisa dipatok ayam nanti rezekinya,"
"Eh, tapi kalo mau pacaran juga udah bisa kali. Soalnya ada cowok yang nanyain kamu terus tuh. Titip salam lagi dia buat kamu,"
"Siapa Mbak. Apa aku kenal sama dia?"
"Kenalan secara langsung sih belum,tapi katanya dia udah pernah lihat kamu dan bilang kalo dia itu suka sama kamu malah dari pandangan pertama,"
"Pandangan pertama kayak judul lagu aja,"
"Kalo buat pacaran sih, aku belum siap ya, Mbak. Aku ini anak sulung, masih jadi tulang punggung keluarga. umur juga masih dua puluhan. Masih jauhlah pikiran buat pacaran apa lagi sampai nikah,"
"Udah kenalan aja dulu, buat dijadiin teman, ndak usah mikir sampai nikah. Kalo soal itu urusannya belakangan aja,"
" Mbak Ratna kenal sama dia, dari siapa?"
"Ya, jelas aku kenal. Dekat lagi kita,"
"Siapa sih dia, jadi bikin penasaran aku aja?"
"Nama cowok itu Hendrawan, tapi lebih akrab dipanggil Awan,"
"Kok Mbak bisa tau detail namanya, bisa dekat lagi sama cowok itu. Apa Mas Budi ndak marah?"
"Ya, ndak lah Wid. Wong Awan itu adik kandungnya Mas Budi. Jadi mau ya, kapan-kapan ketemu sama dia,"ujarnya seraya tersenyum tipis.