"Ara, tolong ambilkan handuk kimono dan baju kerja saya yang sudah kamu persiapkan," kata Mada dari dalam toilet.
Widya yang sedang membuatkan kopi untuk bosnya itu dan nama yang disebut bukanlah nama dirinya. Membuat gadis itu tak menyadarinya.
"Ara!" panggil Oma yang langsung mendapat jawaban dari Widya.
"Iya,Oma," sambil bergegas menghampirinya.
"Tadi kamu dipanggil Mada tuh,"
"Oh, ya sebentar," lalu gadis itu pun beranjak ke depan pintu toilet sambil membawakan pakaian yang diminta Mada.
***
Pagi ini di ruang VVIP di rumah sakit Kasih Ibu ada yang berbeda. Kedatangan Widya membuat Mada salah tingkah. Bukan karena apa, pria itu jadi tak leluasa untuk berdandan sebelum dia berangkat kerja. Namun, begitu Mada tak menyalahkan gadis itu yang datang terlalu pagi, tetapi pria itu hanya merasakan kurang nyaman saja. Sementara Widya pun merasakan hal yang sama. Karena hari ini dia mulai bekerja sesuai perintah bosnya menjadi asisten pribadi untuk sang nenek.
Nantinya selama menjadi asisten pribadi oma di rumah sakit. Widya bukan hanya menemaninya, tetapi juga menyuapi, membersihkan badannya bahkan jika Oma ingin buang air. Widya juga yang bakal membersihkan. Meski awalnya keberatan, tapi karena bakal diberi upah yang besar. Widya tentu saja menerimanya. Pikirnya lumayan upahnya itu menjadi tambahan uang kiriman yang dia transfer untuk keluarganya di kampung.
"Mada, kenapa kamu menyuruh Ara datang pagi-pagi sih. Apa dia gak kerjaan?"
"Ndak apa-apa, Oma. Memang saya yang mau. Jadi, selama Oma dirawat biar saya yang jagain," sahut Widya karena Mada masih ada di toilet memakai pakaian.
"Itu berati saya merepotkan kamu. Lebih baik Ara pulang aja. Gak usah khawatir, di sini sudah ada dokter dan suster tinggal panggil aja mereka,"
"Ndak papa, Oma,"
"Gak gitu Oma, ini juga atas inisiatif Ara. Semalam dia bilang sama aku mau nemani Oma. Selama Oma dirawat di sini. Ya, udah aku setujui," timpal Mada.
"Benar begitu, Ara ? tanya Oma pada Widya.