Entah mengapa di malam ini Widya belum juga bisa memejamkan matanya? Padahal sudah segala cara dia lakukan. Mulai dari menonton film di ponsel, membaca cerita di platform, bahkan menunaikan salat malam, tapi tetap saja belum ada tanda-tanda dirinya mulai mengantuk. Akhirnya Widya memilih keluar kamar.
Meski awalnya takut karena sendirian di rumah yang besar ini. Namun, dia paksakan lantaran pergerakan dirinya bisa menggangu tidur Oma yang tampak begitu pulas berada di sampingnya. Selain itu Widya ingin mencari udara segar di tengah malam. Siapa tahu dengan cara ini. Dalam hitungan menit, dia sudah merasakan kantuk lalu kembali ke kamar untuk segera tidur.
Gadis itu pun melangkah keluar lantas membuka pintu kaca yang tak jauh dari kamar Oma. Langkah kakinya menuju taman kecil yang di sana terdapat juga kolam renang. Pintu itu memang sengaja tak diberikan tirai karena kacanya sudah berbahan anti tembus pandang.
Widya ingin menikmati sejenak pemandangan sunyi senyap di kala tengah malam. Ini pertama kalinya Widya melakukan hal seperti ini setelah resmi dialihkan pekerjaannya. Dari cleaning service kantor menjadi asisten pribadi Oma oleh Mada, bosnya.
"Belum tidur?"
Suara itu tiba-tiba muncul dari arah belakang tak lama setelah Widya mendudukkan dirinya di kursi. Suaranya sempat mengagetkan dirinya, tapi terdengar tak asing di telinga sehingga Widya tak perlu lagi menoleh ke arah belakang.
"Belum, ndak bisa tidur, Pak,"
"Kenapa?" tanyanya kembali sambil mendudukkan juga dirinya di kursi di samping Widya.
Gadis itu menggeleng pelan.
"Gimana sudah sebulan di sini? Apa kamu betah?"
"Kalo saya ndak betah. Saya ndak lagi kerja di sini, Pak. Bisa jadi saya sudah pindah,"
"Kenapa juga kamu gak komen soal gaji yang saya kasih kemarin?"
"Apa lagi yang harus saya komentari, Pak? Di sini saya sudah dikasih makan tiga kali sehari, dikasih tempat tinggal yang layak bahkan tidur bareng sama majikan dengan segala fasilitasnya,"
"Gaji saya juga dinaikkan dua kali lipat. Jadi, apa yang harus saya komentari?"
Mada tersenyum tipis seraya menggeleng pelan.
"Sederhana sekali pemikiranmu. Apa kamu pernah punya pacar?"
"Pacar. Saya belum pernah pacaran," jawabnya seraya menggeleng pelan.
"Kenapa, kamu cewek normal kan?"
"Kenapa Pak Mada tanya gitu? Apa maksudnya?"
"Gak papa. Saya lihat dari CV kamu. Kamu sudah berusia dua puluhan. Tumben aja gitu, ada cewek yang umurnya sudah segitu, tapi belum pernah pacaran,"