Mada menyelesaikan sarapannya begitu pun dengan Widya. Gadis itu lantas merapikan alat bekas makannya. Kepalanya reflek menoleh ke arah samping. Di lihatnya Oma yang belum menyelesaikan sarapannya.
"Mau aku suapi, Oma. Biar sarapannya cepat habis?" katanya.
Namun, tak ada jawaban darinya perempuan tua itu. Wajahnya pun terlihat kesal karena sang cucu belum juga memberikan respons atas permintaannya itu.
Mada bersiap-siap berangkat ke kantor. Pria itu merapikan dasi dan jas yang dikenakan. Dia lantas memberi respons sekaligus jawaban untuk sang nenek yang sedari tadi merajuk.
"Ya udah, Oma boleh jalan-jalan, tapi inget pulangnya jangan sampai malam. Seperlunya aja kalo mau belanja, makan, atau nongkrong,"
"Ingat ya, Oma jangan sampai capek. Nanti bisa sakit, terus masuk rumah sakit lagi,"
"Ingat itu juga ya, Widya," ujarnya sambil menghampiri lalu menyalami tangan neneknya sebelum Mada berangkat kerja.
Widya mengangguk sementara Oma tersenyum senang. Karena akhirnya keinginannya sudah disetujui cucunya. Widya lantas merapikan bekas alat makan dirinya dan Mada di atas meja. Gadis itu lalu membawanya ke dapur dan kembali menghampiri Oma. Dia berencana menyuapi Oma, membantunya agar sarapannya cepat selesai.
Namun, saat Widya baru akan menghampiri Oma. Tangan kirinya sudah ditarik oleh seseorang sama seperti saat beberapa waktu lalu terjadi di rumah sakit.
"Ayo cepat ikut saya!" ujarnya.
"Mada! Apa kamu balik lagi?!" seru Oma.
"Ya, Oma ada file yang ketinggalan di ruang kerja. Mau aku ambil dulu," sahutnya sambil meletakan jari telunjuknya di bibir dan hidung Widya. Tanda agar dia tidak boleh ikut bicara.
***
Mada lantas membawanya masuk ke ruang kerja lalu dia menguncinya.
"Kenapa Bapak ngajak saya ke sini. Bukannya tadi mau cari file yang ketinggalan?"
"Jangan berisik kamu, itu cuma alasan. Biar Oma gak curiga."
"Kalo gitu apa Bapak ngajak saya ke sini buat nyuruh saya bantuin cari file ya, tapi kenapa pintunya dikunci?"
"Gak, saya gak lagi nyuruh kamu, tapi saya mau tanya. Kenapa kamu bertingkah aneh lalu menghindar dari saya?"
"Memangnya salah saya apa sama kamu, Widya?"
"Pak Mada lupa. Apa yang Bapak lakukan pagi ini sama saya?"
Mada mengerutkan keningnya, seperti sedang mencerna apa yang baru saja gadis itu katakan.
"Oh soal itu. Gak, saya gak lupa sama apa yang udah terjadi. Itu hal biasa buat saya,"