AKAD

Dini Kirani
Chapter #15

Ke Mall

Seperti yang sudah dikatakan Oma. Setelah Widya membantunya membersihkan diri. Perempuan tua itu mengizinkan Widya tidur siang lantaran semalam gadis itu tidak bisa tidur dan kini dia sudah berbaring di tempat tidur sedangkan Oma saat ini sedang asyik berkaraoke di ruang tengah bersama dua ART-nya Pini dan Piah.

Namun di kamar, Widya sama sekali tidak bisa memejamkan mata bukan karena gadis itu terganggu akan suara berisik lantaran Oma dan dua ART sedang berkaraoke, tapi karena apa yang tadi dilakukan Widya bersama Mada saat di ruang kerja maupun sebelumnya.

"Kenapa aku masih inget terus kelakuan Pak Mada ya?"

"Itu semua kan bukan salah aku, tapi salah dia. Udah lancang sosor bibirku sudah mirip soang. Kan kesannya aku ini cewek gimana gitu?" gumamnya kesal.

Widya berusaha memejamkan matanya lagi. Namun, suara ponselnya berbunyi.

Tring!

Sepertinya itu suara pesan masuk. Dia lantas mengambil benda itu yang masih tergeletak di atas meja nakas.

Kedua matanya terbelalak. Saat mengetahui isi pesannya. Pesan yang dikirim Mada untuknya. Dipesan itu terdapat struk transfer bank dengan nominal tiga juta rupiah. Di sana juga tertulis pesan. Uang untuk berbelanja. Saat nanti ke Mall sama Oma.

Widya menjebirkan bibirnya lalu bergumam.

"Perhatian juga ternyata orangnya,"

***

Setelah azan Dzuhur dan menunaikan salat. Ke lima orang yang sudah berencana jalan-jalan ke mall akhirnya berangkat. Oma, Widya, Pini, dan Piah kini tengah berada di mobil yang dikendarai Pak Anto sopir yang menjadi andalan Oma. Sejak hampir lima belas tahun laki-laki itu mengabdi menjadi sopir pribadinya.

"To, hati-hati bawa mobilnya ya. Sekarang ini kamu lagi bawa empat gadis rempong mau jalan-jalan ke Mall," kata Oma.

Perkataan itu langsung disambut gelak tawa semua orang tidak terkecuali Anto. Bagaimana tidak? Di dalam hanya Widya saja yang belum pernah menikah sedangkan empat orang yang lainnya semuanya sudah pernah atau memang berstatus menikah dengan pasangannya masing-masing.

"Siap Nya!" jawabnya disertai anggukan kepala.

"Saya bukan cuma gadis Nyonya, tapi masih singset," timpal Piah.

"Oh, berarti kamu mau menikah lagi, Piah?"

"Oh tentu tidak Nyonya. Saya sudah bahagia dengan anak dan cucu yang ada di kampung,"

"Kalo kamu, Pini?"

"Tentu tidak, Nyonya. Saya gak akan nikah lagi. Karena sudah ada Aki-aki di rumah yang setia menanti,"

"Hah, Aki-aki. Maksudnya?" tanya Widya dalam hati.

"Nah, kalo kamu, Widya. Yang benar-benar masih jadi gadis tulen, gimana soal pernikahan?"

"Belum mikir buat nikah, Oma. Masih ingin bantu meringankan kebutuhan hidup keluarga dan diri sendiri, Oma,"

Lihat selengkapnya