Beruntung saat ingin pergi ke rumah sakit. Jalan raya ibu kota tak lagi padat, karena melintas bukan di jam sibuk. Sehingga dengan cepat Mada tiba di tempat tujuan. Pria itu hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk tiba di sana.
Setibanya di gedung yang akhir-akhir ini sering dikunjunginya. Dengan sigap Mada berlari menuju lantai tiga . Di kamar VVIP di tempat biasa perempuan tua itu dirawat sebagai pasien prioritas. Dengan langkah yang cepat Mada menuju kamar neneknya itu. Lalu dengan sangat hati-hati dia membuka kenop pintu kamar rawat inap itu sembari menghela napas yang tersengal-sengal .
Meski kedua matanya sudah tak bisa melihat. Namun, anehnya pendengaran Oma masih bekerja dengan sangat baik. Perempuan tua itu masih bisa merasakan kedatangan seseorang ke dalam kamar rawatnya.
"Siapa itu yang datang, Widya?"
Lantaran terlalu fokus pada keadaan Oma. Gadis itu malah tak menyadari. Jika ada seseorang yang datang ke kamar itu. Widya lantas menoleh seraya menjawab pertanyaan Oma.
"Iya, Oma. Pak Mada sudah datang,"
"Bisa kamu keluar sebentar. Aku mau bicara dulu empat mata dengan cucuku,"
"Baik, Oma,"
Gadis itu melangkah sembari menatap Mada yang sedang mengatur ritme napasnya lagi sembari mendekati ranjang. Di mana Omanya kini berbaring.
"Oma mau ngomong apa sama aku?" katanya sambil mendudukkan bokongnya di kursi.
"Boleh Oma minta sesuatu sama kamu, Mada?"
"Iya bolehlah. Apapun yang Oma minta, Mada usahain akan Mada wujudtin,"
"Benarkah itu, Mada. Apapun yang Oma minta akan kamu wujudtin sesuai permintaan Oma?"
"Pasti, Oma. Asalkan permintaan itu sesuai batas kemampuan Mada ya,"
Perempuan tua itu pun mengangguk, mengerti apa yang dimaksud cucunya itu.
"Cuma satu yang Oma minta sama kamu,"
"Apa itu, Oma?"
"Oma ingin kamu segera menikah,"
Uhuk!