Ternyata orang yang sedang dibicarakan Oma dan Widya kini malah balik lagi ke kantor. Pikirnya saat ini kondisi neneknya tidak seperti apa yang dia bayangkan. Keadaan neneknya itu tampak makin membaik. Namun, sekarang beban pikirannya malah makin bertambah.
Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah Oma sehingga kepala Mada seakan ingin meledak. Terasa pusing, stres, dan berat. Perempuan tua itu membebani cucu kesayangannya ini untuk menikah dan bukan hanya itu saja, dia meminta Mada untuk menikah dalam satu Minggu ke depan .
"Loh Pak bos, kenapa balik ke kantor lagi?" tanya Rida sekretarisnya begitu melihat Mada ada di kantor. Perempuan itu lantas mengikuti langkah bosnya yang akan masuk ke ruang kerjanya.
Gimana keadaan Oma, udah gak kritis lagi kan, Pak?"
Dicecar pertanyaan oleh sekretarisnya. Tidak membuat Mada menggeluarkan suara. Pria itu tetap saja bungkam dan ini malah membuat Rida mengerutkan dahinya. Sampai di tempat tujuan. Mada membuka pintu ruang kerjanya. Pria itu memilih duduk di sofa dari pada duduk di kursi putar kerjanya.
"Kenapa pertanyaannya gak dijawab. Emang ada yang salah ya? gumam Rida.
Bukan Mada tak dengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Rida. Mada hanya malas menjawab dan ingin menenangkan pikirannya. Mada mengembuskan napas kasar saat berbaring di atas sofa.
"Buatkan saya kopi!" perintahnya.
Mendengar itu Rida spontan celingak-celinguk. Namun, tak ada orang lain selain dirinya dan bosnya di ruangan. Lantas perempuan itu berinisiatif mengambil ponsel di dalam sakunya dan ingin menghubungi seseorang.
"Jangan panggil orang pantry. Kamu aja yang bikin, tapi ingat ya jangan dikasih gula,"
Mau tidak mau Rida segera menuruti apa yang diinginkan bosnya itu. Perempuan itu bergegas menuju pantry dan membuatkan kopi seperti apa yang dikatakan Mada .
Tok! Tok!
Selang lima menit ketukan pintu menginterupsi ruangan Mada yang hening dan sunyi. Rupanya orang yang sedang mengetuk pintu adalah Arief asistennya datang ke ruangan itu sambil membawa berkas. Pria itu bermaksud memberikan hasil akhir rapat yang tadi Mada tinggalkan.
Sudah diketuk beberapa kali. Namun, tak ada jawaban dari dalam dan Arief ingin mengetuk pintu sekali lagi. Namun, saat tangannya diangkat mengarah pintu. Terdengar suara perempuan datang menghampiri.
"Pak Arief ngapain di situ?"
"Eh, Rida tumben bawa kopi sendiri, biasanya Juki yang bawa,"
"Biasa, Pak Mada lagi mau kopi buatan saya,"
"Pak Mada ada gak sih di dalam. Kok aku ketok-ketok pintu, dia diem aja gak ada jawaban, tapi tadi aku lihat dia udah balik lagi ke sini,"
"Pak Arief gak salah lihat. Emang Pak Mada ada di dalam, tapi emang kayaknya itu orang lagi banyak pikiran. Jadi, dia diam aja,"
"Saya nanya beberapa kali aja. Gak dijawab sama dia,"
"Terus gimana ini? Saya itu mau menyampaikan hasil rapat yang tadi sudah menemukan kata sepakat dengan klien,"
"Ini berkas yang perlu dibaca ulang lalu di tanda tangani Pak Mada," ujar Arief sambil menunjukkan berkas yang dibawa.
"Ya, udah sini biar saya aja yang sekalian bawa, tapi tolong bukain dulu pintunya. Saya ribet bawa kopi segala,"
Tok! Tok!
Tangan yang mengetuk dan membuka pintu ruangan itu adalah Arief sedangkan Rida, satu tangannya membawa secangkir kopi dan satunya lagi membawa berkas yang dibawa Arief sementara setelah memastikan berkasnya sampai. Arief sendiri ingin kembali ke tempat kerjanya seusai membantu Rida membukakan pintu.