"Drakor! Apa itu drakor?"
"Itu singkatan dari Drama Korea, Pak,"
"Apa Pak Arief suka nonton itu? Jadi Pak Arief tau, apa itu cerita drakor?"
"Pak Mada kan tau. Saya jadi orang paling ganteng kalo di rumah. Istri dan dua anak saya itu suka sekali nonton drakor. Ya, akhirnya mau gak mau saya jadi ketularan mereka,"
"Oh kalo gitu, gimana kalo anak sulung Pak Arief aja yang jadi istri saya?"
"Bolehkan, Pak Arie? Kan cuma nikah kontrak. Kayak di drama Korea?"
"Maaf nih sebelumnya, Pak Mada. Bukannya saya gak setuju, tapi anak sulung saya itu masih lima belas tahun. Masih SMP kelas sembilan,"
"Nanti kalo saya izinkan dan Bapak nikah sama anak saya. Bisa-bisa Pak Mada masuk penjara. Gara-gara menikahi anak di bawah umur,"
"Oh benar juga ya. Aduh jadi pusing lagi nih kepala saya,"
"Bukan apa-apa, Pak Arief. Saya
cuma takut, kalo terjadi sesuatu sama Oma dan saya belum bisa tepati keinginannya. Bisa jadi saya menyesal seumur hidup,"
"Tapi masa iya sih, Pak Mada. Gak punya pacar atau teman dekat perempuan atau jangan-jangan, Pak Mada?"
"Eh, jangan ngawur ya Pak Arief. Saya bukan kaum laknat begituan, saya ini masih tulen, masih lurus, High Quality jomblo,"
"Nah, kalo gitu juga harus yang sama, Pak Mada,"
"Maksudnya, apa ya? Gak ngerti saya?"
"Maksudnya itu, perempuan yang harus tau keseharian Pak Mada selama ini. Walau cuma nikah kontrak dan cuma sementara aja. Tapi seenggaknya Pak Mada juga harus mengenal perempuan itu luar dalam,"