AKAD

Dini Kirani
Chapter #24

Terpaksa Memaksa

Setibanya di rumah sakit Mada langsung menuju ke lantai tiga. Kamar di mana neneknya mendapat perawatan. Di luar kamar terlihat Widya sedang menunggu. Wajahnya pun terlihat sedih.

"Widya!" kata Mada seraya menghampirinya.

"Mana Oma?"

"Di dalam sedang mendapatkan tindakan lebih lanjut dari dokter Amran,"

Dan lima menit setelah Widya menjelaskan kondisi Oma. Rupanya dokter itu pun sudah keluar dari dalam kamar rawat. Sedangkan dua perawat masih berjaga di dalam kamar.

"Pak Mada, sepertinya Ibu Suryani harus kita rawat inap lagi di ruang ICU. Agar pihak medis bisa lebih intensif lagi memantau dan memberikan tindakan padanya. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan pada Ibu Suryani,"

"Baik, Pak Dokter, apapun yang dokter upayakan. Demi kesehatan Oma pulih. Silakan dokter dan tim medis lakukan,"

Saya akan siap membantu dan menyetujuinya, tapi?"

"Tapi apa, Pak Mada?"

"Bisa kita bicara secara empat mata,"

Dokter Amran lantas meminta dua perawatnya tetap stand by mengawasi kondisi Oma dan memberikan kabar jika terjadi sesuatu pada pasien tuanya itu. Keduanya lantas mencari tempat yang aman untuk mengobrol berdua meski tidak meninggalkan halaman dari kamar VVIP.

Widya pun kembali ke kamar VVIP untuk melihat keadaan Oma dari jarak yang jauh karena takut mengganggu kedua perawat yang sedang memantau kondisi Oma saat ini. Dalam hatinya. "Kenapa Oma tidak langsung dipindahkan ke ruang ICU?"

Sementara obrolan yang terjadi antara Mada dan dokter Amran tidaklah begitu serius seperti apa yang tadi dibicarakan. Obrolan itu terjadi hanya beberapa menit lalu dokter itu pun pamit meninggalkan Mada menuju ruang kerjanya. Tanpa Widya sadari. Sopir pribadi Oma, Pak Anto datang bersama seorang pria paruh baya berpakaian rapi seperti seorang pemuka agama.

"Den Mada!" ucapnya seraya menghampiri Mada bersama dengan pria paruh baya yang datang dengarnya.

"Saya sudah bawakan orangnya ke sini. Sesuai yang Den Mada minta pagi ini. Beliau ini merupakan imam masjid di lingkungan rumah Den Mada," jelasnya.

Mada mengangguk paham atas penjelasan itu. Keduanya lantas bersalaman saling memperkenalkan diri. Kemudian Mada membuka sedikit obrolan untuk menjelaskan maksud keinginannya mengundang pria paruh baya itu ke rumah sakit ini. Pria paruh baya yang bernama Alu itu pun mengangguk paham dengan apa yang diinginkan Mada.

Mada lalu mengajak Pak Ali dan sopir omanya itu masuk ke kamar rawat inap neneknya. Keduanya lantas di persilakan duduk di ruang tamu yang tersedia di kamar itu sementara Widya yang ada di sana. Tampak kaget melihat kedatangan pria-pria itu ke dalam kamar rawat Oma.

"Loh, Pak Mada. Ada apa ini? Pak Anto, kenapa ada di sini juga, dan Bapak ini, siapa?' cecarnya.

"Diam kamu, Widya!" sahut Mada dengan nada pelan. Namun, masih bisa di dengar oleh gadis itu.

Lihat selengkapnya