"Pak Mada ndak lagi bercanda 'kan?"
"Siapa yang lagi bercanda. Lagian buat apa juga, dalam keadaan kayak gini. Saya bercanda sama kamu. Kamu itu sakit ya, Widya?"
Gadis itu pun menggelengkan kepalanya lalu berkata.
"Tapi menikah itu kan sesuatu yang sakral, Pak. Bukan cuma buat sementara, tapi buat selamanya,"
"Gak usah kamu ceramahi saya, Widya. Saya juga udah tau. Apa itu definisi pernikahan sebenarnya, tapi saat ini kondisinya berbeda,"
"Oma sedang berjuang antara hidup dan mati melawan penyakitnya. Dan saya sebagai cucu tertua yang hidup bersamanya. Ingin mewujudkan, apa yang diinginkan Oma. Saat kemarin dia sadar,"
"Kalo sampai terjadi hal yang buruk pada kondisinya. Saya tidak akan menyesal seumur hidup saya sebagai cucu dalam keluarganya,"
"Kenapa Pak Mada ngomong buruk soal kondisi Oma. Seharusnya Pak Mada itu optimis jangan pesimis?!"
"Lalu apa jawabanmu, atas pertanyaan yang saya ajukan semalam?"
"Soal itu, maaf sekali Pak. Saya menolak keras keinginan Bapak itu. Saya tidak ingin menjadi istri kontrak, Pak Mada,"
"Biarlah saya tetap menjadi asisten pribadi Oma. Pekerjaan ini sudah membuat saya cukup bahagia, Pak,"
"Kamu yakin, kamu sudah cukup bahagia?"
Gadis itu pun mengangguk mantap.
"Lalu, bagaimana dengan keluarga di kampung. Ibumu yang mulai sakit-sakitan, adik-adikmu yang masih membutuhkan banyak uang dan utang keluargamu?!"
"Pak Mada, tau dari mana soal utang itu?"
"Gak perlu kamu tau, dari mana saya tau soal utang keluargamu itu. Dan keluargamu sudah ditagih kan untuk membayar utang yang sudah lama itu secepatnya?"
"Sekarang coba kamu pikirkan. Berapa banyak waktu lagi dan berapa banyak nominal uang yang akan diserahkan. Jika kamu menunda-nunda lagi pembayaran utang itu?"
"Belum lagi, bagaimana nasib keluargamu di sana. Kalo kamu gak bisa bayar itu secepatnya?!"