"Sebelum kita masuk ke dalam, bolehkah saya tanyakan sesuatu, Pak?"
"Boleh, mau tanya apa?"
"Kenapa Pak Mada pilih saya. Saya kan berbeda, Pak?"
"Beda, apanya, ya?"
"Saya kan orang Jawa sedangkan Pak Mada orang keturunan Tionghoa. Lagi pula kita beda keyakinan?"
"Beda keyakinan. Keyakinan, apa?"
"Oh, maksud kamu agama?"
Widya mengangguk sementara Mada tersenyum, tapi lambat laun tertawa.
"Saya juga keturunan Jawa kali. Bapak saya itu asli orang Wonosobo. Keluarga inti saya juga ada di sana,"
"Kulit saya bisa putih. Mungkin gennya ngambil dari Oma yang emang keturunan Tionghoa, tapi saya ini muslim kok. Tulen dari lahir,"
Penjelasan itu tentu saja membuat Widya bernapas lega. Apa yang sudah dia takutkan, ternyata tidak benar dan gadis itu pun jadi makin yakin menerima permintaan bosnya yang ingin menjadikannya istri meski ini hanyalah pernikahan siri dan bersifat sementara. Dengan tujuan membahagiakan Oma.
***
Tanpa gadis itu tahu di dalam. Selain Oma, ada juga beberapa orang yang sedang menunggu kedatangan mereka. Pak Anto, ustad Ali, dokter Amran, dan dua perawat yang sedari tadi menjaga Oma.
"Kenapa di sini jadi banyak orang, Pak?" bisiknya begitu pintu kamar dibuka olehnya.
"Gak papa. Saya sudah izin ke dokter Amran,"