AKAD

Dini Kirani
Chapter #27

Kilas Balik Kesedihan

Awan duka menyelimuti kediaman keluarga Sastranegara. Suryani Sastranegara yang akrab dipanggil Oma pagi dini hari meninggal dunia akibat penyakit komplikasi yang dideritanya. Mada sebagai cucu tertua yang tinggal bersamanya. Tampak sangat terpukul kehilangan nenek yang sangat menyayanginya.


Sejak usia enam tahun Mada sudah diasuh dan dirawatnya. Bukan karena ayah dan ibunya sudah tiada atau memang sengaja tidak ingin bertanggung jawab terhadap anak pertamanya itu. Namun, kelahirannya itu adalah awal perdamaian antara kedua orang tuanya dengan sang Oma. Dulu pernikahan antara ibu dan ayahnya sempat ditentang dan tak mendapat restu dari Oma.


Ibunya bernama Annawati Sastranegara. Anak perempuan semata wayang Oma. Lebih memilih menikah muda dengan kakak tingkatnya semasa kuliah. Namun, berbeda jurusan di sebuah universitas negeri. Pria yang berhasil menaklukkan hatinya bernama Agung Priyanto. Pemuda asal Wonosobo yang merantau ke kota lantaran mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Selain menjadi mahasiswa.


Untuk memenuhi kebutuhan hidup. Agung bekerja di sebuah restoran. Pertemuan tanpa sengaja dengan Anna di perpustakaan di tempat kuliah menjadi awal berseminya cinta mereka. Hingga akhirnya mereka menjalin kasih secara diam-diam sampai dititik keduanya nekat memutuskan menikah di usia yang relatif muda.


Keinginan itu tentu saja tidak direstui Oma lantaran anaknya yang masih berusia muda dan belum menyelesaikan pendidikannya. Ketika itu, Anna baru berusia dua puluh tahun dan Agung berusia dua puluh dua tahun. Oma melarang dan tidak merestui keduanya. Lantaran perempuan itu menaruh harapan besar pada putri semata wayangnya untuk bisa dijadikan penerus, menjadi pemimpin di perusahaan keluarga. Setelah dirinya pensiun nanti.


Namun, Anna tetap bersikukuh dan nekat memilih menikah lalu hidup sederhana di kampung halaman Agung. Akibatnya hubungan antara ibu dan anak itu pun renggang, tidak ada komunikasi apapun sampai dua tahun lamanya. Hingga akhirnya berita kebahagiaan itu pun datang.


Lahirnya Mada menjadi momen yang tak disia-siakan Oma untuk mengultimatum anak dan menantunya. Jika ingin mendapat restu darinya. Maka, saat cucu pertamanya berusia enam tahun. Anak itu harus tinggal dan hidup bersama dengannya di kota.


Bukan tanpa alasan, Oma meminta Mada tinggal dengannya. Perempuan itu merasa sendiri setelah putrinya menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota. Hidupnya menjadi hampa dan merasa sebatang kara.


Sejak itulah hanya pekerjaan yang menjadi pusat perhatian dan pelampiasannya setiap kali dia merasa kesepian. Tetapi, setelah kehadiran cucu di tengah-tengah kesendiriannya. Oma merasa kembali bersemangat untuk beraktivitas apapun.


Terlebih sejak kecil hingga beranjak dewasa. Mada selalu membuatnya bangga dengan pencapaian dirinya secara akademik. Mada juga dianggap anak yang patuh dan disiplin dalam beraktivitas sehari-hari. Sejak kecil Oma lah yang menjadikan pria itu seperti saat ini. Tegas, berdisiplin, dan manusiawi dalam melakukan segala hal dan menentukan apapun.


Lihat selengkapnya