Tujuh hari sudah Oma meninggalkan dunia ini. Semalam sudah digelar pengajian untuk mendoakan dan mengenang kepergiannya. Kedua orang tua dan adik-adik Mada pun sudah kembali ke kota masing-masing. Kepergian Oma masih membuat Mada terpuruk sehingga dia belum siap kembali bekerja beraktivitas seperti biasanya. Masih memilih beristirahat di rumah sembari mengenang kembali kenangan-kenangannya bersama Oma tercinta.
Tint-tong!
Suara bel pintu berbunyi. Widya yang berada di ruang tamu sedang merapikan dan membersihkan barang-barang langsung bergegas membukanya.
Di hadapannya terdapat perempuan cantik yang wajahnya tampak asing, tapi sepertinya. Dia pernah melihatnya sekilas perempuan itu. Namun, dia lupa itu di mana?"
"Permisi, Mbak. Mada-nya ada?" ucapnya ramah.
"Oh, ada. Mbaknya ini, siapa ya?"
"Oh, saya Araceli. Temannya Mada.
Widya terdiam seperti sedang berpikir.
"Kayak pernah dengar nama ini," gumamnya dalam hati.
"Mbak! Kok diam aja sih. Tolong cepat panggilkan Mada,"
"Oh iya, maaf silakan masuk, Mbak!" ujarnya seraya mempersilakan perempuan muda itu duduk.
Widya lantas bergegas mendatangi kamar Mada.
Tok! Tok!
"Pak Mada, ada tamu yang mau ketemu sama Bapak,"
"Siapa?!"
"Namanya kalo ndak salah Araceli,"
"Apa! Ara datang. Mau apalagi dia?" gumamnya.
Widya tidak menunggu jawaban dari bosnya, keluar dari kamar, tapi gadis itu memilih beralih ke dapur. Ingin membuatkan minum untuk tamu bosnya yang baru saja datang.
"Kamu mau bikin minuman apa, Wid? Cangkirnya kayak mau buat tamu aja," tanya Piah
"Emang lagi ada tamu sekarang,"
"Tamu siapa, kok kita di sini gak denger, ya?" timpal Pini.