Seperti yang sudah dijanjikan tadi siang. Akhirnya Mada mendatangi tempat janjiannya dengan Araceli. Sebuah tempat hiburan malam yang dulu sering dikunjungi. Saat keduanya masih memiliki ikatan kedekatan. Rupanya Mada datang lebih awal. Pria itu lantas memesan segelas minuman dan memilih tempatnya. Agar saat temannya itu datang. Keduanya bisa langsung mengobrol dengan nyaman.
Lantas Araceli pun pamit selepas makan siang mereka di restoran. Perempuan itu sempat berkata dirinya ingin sekali mengobrol lagi tentang banyak hal bersama dengannya. Araceli juga bilang, dia juga tak tahu mengapa dirinya merasa nyaman bila mencurahkan segala yang dia rasa kepada Mada.
Entah ini hanya alasan belaka atau memang sungguhan. Yang jelas Mada sudah menyanggupi permintaan itu dan pantang rasanya bila menarik kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri jika Mada ingin menolaknya di tengah jalan. Ini juga jadi titik balik kembalinya Mada setelah sekian hari berdiam, mengurung diri di rumah. Merasakan kedukaan mendalam setelah kepergian Oma untuk selama-lamanya.
***
"Hai, Da. Udah lama di sini?"sapa Ara.
"Emm, baru lima belas menit," sahutnya sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
Perempuan itu lantas memesan minuman. Namun, minumannya berbeda dengan yang dipesan Mada. Keduanya lalu berbasa-basi membuka obrolan.
"Lama ya kita gak nongkrong di sini. Kira-kira udah lima tahunan. Kayaknya sejak gue pindah ke luar negeri. Apa lo sering ke sini. Setelah gue tinggal di Brazil?"
"Jarang bahkan bisa dibilang gak pernah. Gue itu lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kerja. Lagian Oma juga gak seneng kalo gue sering-sering ke tempat beginian,"
"Protektif dan posesif banget ya, Oma lo itu, tapi sekarang lo udah bebaskan. Udah gak ada lagi yang ngatur-ngatur kayak gitu lagi,"
"Ya, tapi ngerasa kehilangan aja. Oma itu sangat berarti di hidup gue. Dari Oma, gue belajar tentang banyak hal,"
"Soal kehidupan, kesabaran, keuletan, kerja keras, tanggung jawab. Semua pokoknya. Gue belajar dari Oma,"
"Ah, lo ngomong gitu. Gue jadi nyesel,"
"Nyesel, gimana?"
"Nyesel gue pernah nolak lamaran lo. Nyesel karena akhirnya gue lebih pilih Jeremy. Nyesel karena akhirnya gue nikah sama dia karena bujukan orang tua gue,"
"Ngapain juga disesalin, seharusnya disyukuri. Kan gara-gara lo pilih dia. Impian lo buat berkarir di luar negeri jadi kesampaian,"
"Iya sih, tapi pernikahan gue sama dia itu cuma sebatas bisnis. Manisnya cuma di awal. Sisanya hambar dalam hitungan bulan,"