AKAD

Dini Kirani
Chapter #30

Langgar Janji

Dering pesan singkat berbunyi di ponsel. Araceli buru-buru melihat layar. Sekilas dia membacanya. Wajahnya kesal bukan hanya ditinggal pergi Mada, tetapi rencana yang telah disusunnya dengan matang ternyata gagal di tengah jalan. Mada memilih pergi lebih dulu dari tempat ini daripada menunggunya yang masih berada di toilet.


Bukan maksud Araceli ingin berlama-lama di sana, tetapi dia sedang menjalankan rencananya. Menunda teman prianya itu pergi. Agar obat yang diam-diam dia campurkan di minuman Mada. Larut dan segera bereaksi di badannya. Namun, belum sampai semua itu terjadi. Mada malah pergi meninggalkan Ara seorang diri di tempat ini.


Jelas perempuan itu kesal dan marah. Karena apa yang sudah dia rencanakan beberapa hari ini gagal di tengah jalan. Meski begitu keinginan bercerai dari suaminya dan bisa menjalin kembali hubungan dengan Mada belumlah usai. Araceli akan terus berusaha untuk menaklukkan hati Mada selayaknya dulu. Meski kini Mada kini jauh berbeda dengan Mada yang dulu dia kenal.


Kini Mada adalah pria sukses dan bertalenta. Berhasil mengembangkan karier dan perusahaan keluarga yang diwariskan neneknya jadi lebih besar lagi. Pria matang dalam berpikir maupun bertindak. Jadi, tak heran jika Ara masih mengincar pria itu untuk menjadi kekasihnya kembali dan berharap dirinya lah yang menjadi perempuan terakhir dipilih Mada untuk menemani pria itu selama-lamanya.


"Mada!!!" teriak Araceli kesal.


Tentu saja hal itu mendapat perhatian dari beberapa perempuan yang ada di area toilet, tapi dia tidak peduli. Semangatnya masih berkobar, masih membara. Araceli harus mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Gak akan gue biarin lo lolos dari gue, Mada!"


"Gue akan terus ngejar lo bahkan apapun akan gue lakuin. Asal lo bisa balik jadi milik gue lagi seutuhnya. Ingat itu, Mada!"



***



Sementara di dalam mobil. Mada mulai merasakan sesuatu gejala aneh yang dirasakan tubuhnya. Pria itu tiba-tiba merasa pusing, sakit kepala, hawa terasa panas, dan keringat mulai mulai bercucuran. Beruntung sebentar lagi pria itu akan sampai di rumah sehingga dia bisa segera beristirahat. Lantaran tubuhnya mulai merasakan kurang enak badan.


Setelah memarkirkan mobilnya di garasi. Mada segera membuka pintu. Namun, dia lupa berada di mana kunci serep yang dia bawa?. Tidak tinggal diam pria itu lantas menghubungi seseorang. Agar orang tersebut bisa membukakan pintunya dari dalam dan tak lama kemudian, dering ponsel itu pun terdengar nyaring hingga masuk ke dalam kamar.


Di meja nakas ponsel itu tergeletak. Bunyi itu pun samar-samar mulai terdengar di telinga, tapi rasa pusing yang sedari tadi dirasakan membuat gadis itu sedikit malas membuka matanya. Namun, karena dirasa mengganggunya. Mau tidak mau Widya pun akhirnya meraba ponsel itu di atas meja nakas. Melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini. Lamat-lamat dia melihat nama yang tercetak di layar dan ternyata itu nama bosnya. Segeralah dia mengangkatnya.


"Halo, Pak,"


"Cepat buka pintunya, sekarang!"


Sambungan telepon itu pun terputus. Namun, Widya masih terdiam masih mencerna dengan kata pintu yang bosnya itu maksud.


"Pintu yang mana?" gumamnya.

Lihat selengkapnya