Sejak kepulangan Widya dari Jakarta. Kesehatan Hartini. Berangsur-angsur membaik. Perempuan itu sudah mulai kembali beraktivitas setelah seminggu lamanya berbaring di tempat tidur lantaran penyakit asam lambungnya kembali kambuh. Akibat stres memikirkan utang yang harus dibayarkan keluarganya.
Siang hari ini rumah Widya kedatangan tamu. Dia bukanlah orang asing, tapi Bapak-bapak yang sangat menjengkelkan baginya. Bapak yang selalu membuatnya kerap kali murka. Kesal setiap kali pria itu datang ke rumahnya lantaran selalu saja berdebat panjang lebar karena utang.
"Jadi, bagaimana soal sisa utang Bapakmu, Widya. Kapan kamu ingin melunasinya?"
"Maaf, Pak Toto. Bukannya utang Bapak saya hanya dua puluh juta ya. Ibu juga sudah sering mengangsur setiap kali punya uang dan kemarin saya sudah melunasi sisa utang itu,"
"Lantas buat apa lagi, Bapak menagih pembayaran utang itu pada saya?"
Pak Toto tertawa renyah.
"Dengar ini baik-baik, Widya. Apa kamu ndak tau, berapa lama utang Bapakmu sudah mengendap di pembukuan saya?"
Suasana hening sejenak.
"Sepuluh tahun lamanya. Itu berarti sudah satu dasawarsa usianya, dan selama itu. Utang tetap ada bersama uang bunga yang tetap berjalan dan harus dibayar,"
"Sekarang, kamu hitung saja. Berapa bunga yang harus dibayar oleh Bapakmu atau keluarganya pada saya?"
"Terserah kamu sebut saya apa ? Rentenir, lintah darat, atau apapun sesukamu,"
"Tapi bagi saya, bunga adalah utang dan utang juga harus dibayar oleh seseorang termasuk juga utang Bapakmu,"
"Saya ndak menyangka, Pak Toto bisa Setega ini pada keluarga saya. Bapak kan tau bagaimana keadaan saya dan keluarga?"
"Dengar Widya, ya benar memang saya punya sifat tega. Tapi saya masih punya perasaan dan sabar. Jika tidak, sudah dari dulu saya usir kamu dan keluargamu dari rumah ini,"
"Lalu, kenapa tindakan ini baru sekarang saya lakukan?!"
"Kenapa, Pak Toto?"
"Ada dua alasan. Pertama Sartono, Bapakmu adalah teman sepermainan saya, kita sudah bersahabat sangat lama,"
"Sepuluh tahun lalu, saya memberi dia saran untuk masalah yang sedang dia hadapi dan Bapakmu mau mendengarkan,"
Lalu terjadilah utang piutang itu antara saya dan Bapakmu,"