AKAD

Dini Kirani
Chapter #35

Kekesalan vs Kesabaran

Hartini dan ketiga anak perempuannya terkejut ketika mengetahui orang yang datang itu adalah Sartono. Pria yang telah menelantarkan mereka selama sepuluh tahun ini. Dialah suami dan bapak ketiga anak perempuannya.


Bukan hanya Sartono, tetapi juga seorang anak kecil laki-laki berusia kira-kira sembilan tahun ikut dibawa serta olehnya. Sartono yang dulu berbeda dengan Sartono yang sekarang. Pria itu tak lagi gagah, tak lagi kuat, malah tampak kerapuhan di tubuhnya yang jelas terlihat dengan kasat mata.


Saras melangkah mundur setelah membukakan pintu. Gadis itu kembali ke posisi semula bersama Ibu dan kedua kakaknya


"Pak, boleh kite masuk rumah ni?" tanya anak kecil itu.


"Ya masuk sahaja. Kau boleh masuk, ni rumah Bapak di kampung,"


Satu kaki anak kecil itu hendak ingin melangkah masuk, tetapi Widya sedikit bergerak maju.


"Siapa yang bolehkan dia masuk, Tuan?" ucapnya sembari kedua lengannya bersedikap.


Mendengar itu kaki anak kecil itu pun kembali ke posisi semula. Sartono tersenyum dan mulai menyapa semua orang yang ada di dalamnya.


"Assalamualaikum, Har, anak-anak. Ni Bapak, Bapak dah pulang,"


"Bapak dah takde lagi kerje, sudah tak dipakai lagi dekat sane. Bapak dah takde wang. Jadi-,"


"Jadi anda pulang, mau tinggal lagi di sini, kumpul lagi sama kita. Setelah kere, melarat, atau apalah itu namanya. Bukan begitu maksud, Tuan?!


"Widya, ini Bapak. Kenapa kau terus menyebut awak tuan. Awak ni Bapak kandung kau bukan orang lain?"


"Bapak! Bapak yang mana?! Sepuluh tahun lamanya saya dan dua adik saya sudah ndak punya bapak,"


"Bahkan istrinya, ibu kami sudah lama menjanda yang seolah-olah ditinggal mati suaminya,"


"Pontang-panting banting tulang buat biaya hidup kami. Yang mana seharusnya itu menjadi tanggung jawab suaminya!"


"Dulu suaminya merayu minta izin. Untuk bisa merantau jadi TKI di luar negeri. Katanya ingin memperbaiki ekonomi keluarga,"


"Tapi nyatanya, apa? Semua hanya janji manis belaka. Nyatanya Tuan yang mengaku suami serta bapak bagi kami!"


"Malah menghilang tanpa jejak, bagai orang yang ditelan bumi. Jangankan memberi kami nafkah bulanan sesuai janji. Memberi kabar pun ndak!"


"Jadi wajar saja, jika kami anggap anda itu sudah lama mati!"

Lihat selengkapnya