Menyadari ada keributan kecil di balik pintu kamarnya. Hartini buru-buru menghapus setitik air yang jatuh di area pelupuk matanya secara kasar. Dia lantas bergegas bangun dari duduknya. Segera membuka pintu dan benar dugaannya. Suami dan anak sulungnya itu kembali menciptakan keributan.
"Kenapa kalian berada di sini?" tanyanya.
"Ibu sendiri, kenapa ada di kamar bukan kembali lagi ke dapur. Pasti gara-gara tamu ini, ya?"
Ada apa, Bu. Bilang saja, nanti Widya adakan perhitungan dengan ini orang?"
Merasa tersindir dengan ucapan sang anak sulung yang sedari awal tak menyenangi kedatangannya kembali ke rumah. Sartono pun mulai merasa terganggu dengan ucapan Widya itu.
"Lagi-lagi kau buat saye tak bise sabar, saye sudah tak tahan lagi macam ni,"
"Terus anda mau, apa? Marah sampai kepala anda mau meledak. Silakan, saya ladeni, tapi dengar ucapan saya ini baik-baik,"
"Jika mau marah. Tolong anda luapkan kemarahan itu, tapi hanya pada saya. Jangan pada yang lain. Namun, setelah itu, saya minta anda langsung angkat kaki dari rumah in-,!"
"Widya, ikut Ibu ke dapur!"
Terpaksa Hartini memotong ucapan anak sulungnya itu. Perempuan itu takut, jika akan terjadi lagi keributan besar antara Widya dan Sartono.
***
Tikar bambu pun di gelar di ruang tengah. Kini bukan hanya Widya, tapi juga Laras dan Saras ikut membantu ibunya menyajikan seluruh makanan yang telah dimasaknya bersama Widya. Menu makanan yang sederhana hanya berupa sayur oseng kangkung, tempe, tahu goreng, kerupuk udang, dan tak lupa sambal terasi sebagai pelengkapnya. Semuanya diletakkan di atas tikar dan akan disantap bersama-sama.
Keluarga kecil itu kini duduk mengitari menu makanan yang tersaji di tengah-tengah mereka. Duduk lesehan, semua anggota keluarga akan menyantap makanan sederhana itu secara bersama. Kembali berkumpul menjadi keluarga yang utuh meski kini terdapat bara sakit hati yang masih membara terutama di hati Widya. Sartono, laki-laki yang menelantarkan mereka. Telah kembali dengan membawa seorang anak laki-laki yang statusnya belum diketahui oleh Widya dan adik-adiknya.
Widya memang sudah curiga. Namun dia belum sempat untuk menanyakan perihal status anak kecil itu dengan sang ayah. Mungkin setelah makan siang ini. Perempuan itu akan menanyakan hal ini pada ayahnya.
Rizwan anaknya kecil itu berkali-kali mengatakan makanan yang dia makan sedap pada Sartono. Dia begitu lahap hingga meminta tambah sementara Sartono senang karena nafsu makan anak kecil itu kembali lahap saat menyantap masakan Hartini istrinya.