"Cepat keluar dari rumah ini sekarang juga dan jangan pernah menginjakan kaki lagi di rumah ini!"
"Kau janganlah marah. Awak bise cerite semue, kenape macam ni dapat terjadi, Widya?"
"Ndak perlu lagi ada penjelasan. Mau apa, karena apa? Anda sudah katakan dengan jelas. Keluar dari mulut anda sendiri!"
"Jika anda itu sudah menikah lagi dan bukan sekedar pernikahan tetapi ada bukti. Bukti jika anak kecil yang anda bawa itu adalah anak anda. Iya kan?!"
"Iye, awak faham, orang macem awak ni memang punye banyak silap. Tapi bagaimane pun kau dan semua orang dekat sini sakit hati pade awak, tapi mohon dengan sangat biar awak jelaskan semue perkaranye-,"
"Kalian berdua ini, kenapa lagi sih, sudah hampir sore. Masih saja ribut terus?"
Sartono dan Widya sama-sama menoleh ke arah datangnya suara. Keduanya melihat Hartini sedang melangkah dan ingin menghampiri mereka.
"Ibu, kenapa ke sini lagi sih. Kan sudah ku bilang tidur saja di kamar?"
"Gimana mau tidur. Lah wong kalian berdua itu ribut terus. Jadinya aku keberisikan ndak bisa tidur?"
"Gimana aku ndak berisik, Bu. Ini orang ternyata sudah-?"
Widya lantas menghentikan penjelasannya. Perempuan itu memilih diam sejenak seperti sedang memikirkan kata apa yang ingin dia ucapkan pada ibunya sedangkan Sartono seperti memanfaatkan kesempatan dan situasi untuk tidak disia-siakan olehnya. Pria itu lantas menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dengan Widya.
"Bu, ni anak ingin awak keluar dari sini. Dia dah berani usir awak. Bapak kandungnya sendiri,"
"Apa benar itu, Widya? Kamu ingin mengusir Bapakmu sendiri dari rumah ini. Lancang sekali kamu jadi anak!"
"Ya, tapi aku ada alasannya, Bu. Aku bisa jelaskan sekarang juga,"
"Apa alasannya dan jelaskan sekarang pada Ibu?"
"Laki-laki ini yang sudah mengaku sebagai suami dan Bapak pada kita ini. Alasan dia menghilang setelah keinginannya terwujud. Merantau keluar negeri,"
Trnyata dia di sana malah menikah lagi dengan perempuan lain, Bu. Perempuan itu bernama Martinah dan anak kecil itu adalah anak hasil pernikahannya,Bu,"
"Lalu dengan mengusir Bapakmu seperti ini. Apakah hatimu bisa tenang, bisa lega. Bukan begitu, Widya?"
"Ya, paling tidak kan seperti itu yang saya inginkan, tapi tunggu,"
"Kenapa Ibu bisa setenang ini. Apa Ibu sudah tau masalah ini?"
"Iya, Ibu sudah tau,"
"Kapan, Bu?"