Suasana rumah jadi sepi lantaran dua orang anaknya sedang bersekolah sedangkan Widya sedang berbelanja membuat Hartini ingin segera mengeksekusi rencananya sendiri. Perempuan itu lantas bergerak cepat agar apa yang sudah dipikirkannya sejak semalam berjalan dengan lancar. Perempuan itu sudah membuatkan kopi dan menyiapkan sarapan untuk Sartono dan Rizwan. Menu sarapannya sama yang disantap pagi ini untuk ketiga anaknya.
Dua cangkir masing-masing kopi dan teh hangat sudah siap di atas meja. Bersamaan dengan menu sarapannya di meja yang sama. Sambil menunggu keduanya selesai mandi dan menggunakan pakaian. Hartini pun bebenah merapikan dapur dan mencuci alat bekas masak dan makan dirinya dan anak-anak.
"Diminum dulu, Pak. Kopinya lalu sarapan. Tapi maaf adanya cuma menu sederhana," ujarnya saat melihat Sartono dan Rizwan menghampiri meja tersebut.
"Ini saje dah cukup, Har. Awak dah senang kau hargai awak dan Rizwan. Tidak seperti Widya yang suke sekali marah je kalau lihat awak. Pening sangat kepale tiap dengar dia bercakap," jawabnya sambil mendudukkan dirinya di kursi.
"Ya sudah maafkan saja anak itu, Pak. Jangan diambil ke hati, dimaklumi karena sejak Bapak pergi merantau. Otomatis aku dan dia belakangan ini yang menjadi kepala dan tulang punggung keluarga,"
Tapi janganlah seperti itu, Har. Dia tu harus lebih faham sikit kedudukan. Dia siape, awak pun siape dekat sini?"
"Belakangan ini, aku mulai sering sakit-sakitan. Mungkin melihat itu, Widya bergegas mengambil alih peranku menjadi tulang punggung keluarga sampai-sampai dia harus merantau ke ibu kota,"
"Demi aku dan adik-adiknya bisa bertahan hidup, mencukupi segala kebutuhan kami di sini. Dia rela bahkan nekat, ndak malu bekerja menjadi pegawai rendahan di kantornya," jelas Hartini lebih lanjut.
Mendengar perkataan itu Sartono seperti mendapat tamparan sangat keras. Dalam hatinya ada sedikit penyesalan. Mengapa dirinya tega meninggalkan keluarganya dan kampung halaman ini?. Demi bisa merantau ke luar negeri. Niat awalnya memang mulia, tapi faktanya tidak sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan malah Sartono membuat keluarganya kini sakit hati dan menderita karena ulahnya sendiri.