Di sela-sela kesibukannya di ruang kerja. Mada teringat akan ucapannya sendiri saat dia akan menikahi Widya. Pria itu tidak mungkin melupakan janjinya. Jika dirinya akan membantu Widya dalam menyelesaikan utang keluarganya. Sebenarnya Mada sudah berencana mentransfer uang ke rekening perempuan itu sesuai nominal utang yang dimiliki keluarganya.
Namun, lantaran kondisi Oma yang makin kian memburuk saat itu. Sehingga melupakan melupakan janjinya itu dan lebih memilih fokus pada kondisi Oma hingga akhirnya Oma pun meninggal dunia. Kejadian malam itu bersama Widya pun akhirnya terjadi. Saat itu dirinya tidak bisa mengendalikan diri karena diyakini itu adalah ulah Araceli.
Sejak kejadian itu terjadi. Mada pun merasa bersalah, hidupnya tak tenang dan harus segera ada penyelesaiannya. Baik dengan Widya perempuan yang telah sah menjadi istri sirinya atau pun dengan Araceli perempuan yang juga teman dekat di masa lalunya. Mada ingin bicara dari hati ke hati dengan kedua perempuan itu agar tidak terjadi kesalahpahaman atas apa yang dilakukan dirinya. Mada sudah merencanakan dari jauh-jauh hari, tetapi karena kesibukan yang padat rencana ini pun belum dapat terealisasi.
***
"Widya, kenapa lama sekali di pasar. Lalu wajahmu, kenapa bisa pucat, apa kamu lagi sakit?"
"Apa ini alasannya kamu pulang diantar Pak Toto?"
Pertanyaan itu dicecar Hartini ketika melihat anak sulungnya itu sedang beristirahat duduk di kursi dapur.
"Iya, agak sedikit pusing, Bu,"
"Apa mau Ibu kerokin badannya?"
"Ndak usah, tadi aku sudah sekalian beli obat di warung pasar,"
"Ya, sudah kamu istirahat saja di kamar. Biar Ibu yang nanti masak buat makan siang,"
"Sekarang Ibu mau buatkan kopi dulu buat Pak Toto sepertinya dia mampir karena ada Bapakmu,"
Dan memang benar di ruang tamu. Dua sahabat itu sedang berbincang bersama. Keduanya seperti sedang temu kangen setelah sekian lama tidak bertemu. Dari basa basi hingga obrolan ringan dan receh itu mampu membuat dua bapak berusia matang itu tertawa bersama. Mengingat masa lalu yang pernah mereka lewati bersama.
"Bercakap soal utang, To, awak belum bisa bayar. Sebab awak tak lagi kerje dah hampir satu tahun lepas,"
"Ini saje awak dah bersyukur kerana masih bisa pulang dekat sini,"