Mendengar suara benda pecah Widya bergegas keluar kamar. Perempuan itu lantas melihat ibunya sedang membersihkan serpihan kaca dengan sapu.
"Apa yang pecah, Bu?" tanyanya.
"Sini, Bu. Biar aku saja yang bersihkan,"
"Ndak usah, kamu istirahat tuh lihat mukamu saja masih pucat,"
"Nanti kita ke rumah Bu Nani ya, Wid,"
"Buat apa, Bu?"
"Berobat biar kamu cepat sehat. Ibu ndak mau kamu sakit terus, Wid,"
Sedangkan di ruang tamu Sartono masih diam saja. Dia belum menjalankan perintah istrinya. Entah apa yang ada dipikirannya sementara Pak Toto masih saja melancarkan rayuan agar sahabatnya itu sudi memberikan restu agar dirinya bisa segera menikahi Widya.
***
Menjelang waktu makan siang. Mada terdiam, tetapi bibirnya tersenyum tipis. Entah hal lucu apa yang sedang dia pikirkan?.
Trings!
Tiba-tiba terdengar suara dering pesan dari ponselnya. Agak mengganggu kenyamanan. Tetapi segera dia membukanya, takut jika ini pesan penting dari rekan bisnis. Mada lantas membacanya. Di dalamnya tertulis kalimat.
'Pak Mada bisa kita bicara'
Kedua matanya seketika membulat sempurna. Saat mengetahui siapa orang yang telah mengirimkan pesan tersebut. Dia adalah Widya, perempuan yang sudah Mada nikahi secara siri sebulan lalu. Sebenarnya dia baru ingin mengirimkan pesan untuknya, menanyakan kabar, dan ingin bicara dari hati ke hati dengannya.
Tetapi nomor ponselnya ini sudah diblokir oleh Widya dan ponsel lainnya tertinggal di rumah. Mada baru ingin mengirimkan pesan untuk istri sirinya itu. Saat dirinya sampai di rumah, saat santai dari rutinitas kerja. Namun apa yang terjadi, kini perempuan itu telah membuka nomor yang di blokirnya dan malah meminta untuk bicara dengannya.
Apa iya, dia ingin menagih uang yang dijanjikan atau jangan-jangan perempuan itu ingin menikah dengan pria lain? Sehingga Widya meminta bicara dengannya?. Pertanyaan itu seketika muncul di benak Mada. Setelah sekian lama istri sirinya itu memblokir nomor ponselnya ini.
Ketakutan tentu mulai menyerang pikirannya. Sebenarnya Mada ingin segera membalas pesan itu atau malah meneleponnya. meminta penjelasan darinya. Sebelum akhirnya Mada akan memutuskan. Apakah dia akan bertemu langsung dengan istrinya itu, tetapi tiba-tiba.
Brakk!
"Tolong bantu gue buat kabur, Da!"