Mobil yang Mada kendarai berhasil menyusul Araceli yang sedang berjalan pelan. Pria itu lantas memperlambat laju kendaraan mengikuti langkahnya untuk bisa bicara dengannya.
Tiiinnn!
Suara klakson dibunyikan dengan keras. Agar Araceli menyadari jika sahabat laki-lakinya itu berada di belakangnya. Perempuan itu pun menoleh kemudian melangkahkan kakinya kembali.
"Ra, lo marah ke gue?"
Mendengar kalimat itu Araceli melirik lalu menatap tajam tak bersuara pada pria yang sedang membawa kendaraan berwarna hitam yang sudah menjadi sahabatnya selama tujuh belas tahun itu.
"Ra, ada alasannya. Kenapa gue bisa ngomong begitu?"
Mendengar itu Araceli segera menghentikan langkahnya lalu menjawab.
"Apa maksudnya dan jelaskan semuanya?"
"Jangan di sini, Ra. Ini jalanan umum. Mending sekarang lo masuk ke mobil,"
"Gue bakal cari tempat aman untuk cerita semuanya,"
Dahi Araceli mengerut dan wajahnya memasang kesal.
"Ayo cepat masuk atau lo, gue tinggal sendirian. Asal tau aja. Jalan raya ini jarang dilewati kendaraan umum,"
"Kalo pun ada, pasti lama banget datengnya. Sumpah, gua gak bohong," kata Mada sambil memperlihatkan dua jarinya.
Penjelasan itu berhasil membuat Araceli sedikit ketakutan. Perempuan itu lantas bergegas masuk dan duduk di samping Mada, lalu menggunakan sabuk pengaman. Setelah siap Mada pun meninggikan laju kendaraannya.
"Mau ke mana kita, Da?" tanyanya
"Hotel,"
"Apa! Hotel?"
"Jangan piktor dulu, gue itu laki-laki yang menjaga kehormatan. Jadi, pantang berbuat begituan,"
"Apa lagi sama lo, yang jelas-jelas masih jadi bini orang,"
Perkataan itu jelas menyindirnya, membuat hati Araceli tertampar. Seketika dia teringat dengan kejadian sebulan lalu. Saat perempuan itu ingin memanfaatkan persahabatannya. Araceli ingin memanfaatkan sahabatnya itu untuk bisa terlepas dari ikatan pernikahan dengan suaminya.
***
Setengah jam perjalanan sampailah mereka di tempat tujuan. Bukan kamar seperti dugaan Araceli, tetapi restoran yang ada di hotel. Mada memang sengaja mengajaknya ke tempat ini dengan maksud dia dan sahabatnya ituakan nyaman mengobrol tanpa harus dicurigai seseorang sehingga keduanya tidak akan dicurigai sebagai pasangan selingkuhan.
"Buat apa kita di sini, Da. Kan kita baru selesai makan. Masa mau makan lagi?"
"Udah, Ra. Lo duduk aja dulu, gak usah banyak komen?"
Mada mendudukkan tubuhnya disusul perempuan itu dengan posisi berhadapan.
"Kita di sini kan gak harus makan juga, tapi ngobrol. Menanyakan dan menjelaskan sesuatu satu sama lain,"
"Menanyakan dan menjelaskan sesuatu. Sesuatu, apa?" tanya Araceli seraya mengerutkan dahi.