"Lo ngirim pesan buat siapa, Da, kok kelihatannya serius banget?"
"Widya, karena lagi ngomongin dia. Gue jadi inget sesuatu,"
"Sesuatu, apa?"
"Transfer uang buat bayar utang keluarganya. Keluarga Widya itu punya utang sama seseorang,"
"Lo yang bayar, Da. masa sih dia udah ngelunjak padahal statusnya cuma istri kontrak,"
"Justru karena itu, akhirnya dia mau nikah kontrak sana gue. Karena gue janji bantuin dia buat bayar utang keluarganya,"
"Matre dong dia,"
Uhuk!
Mendengar celetukan itu, Mada yang baru saja menyeruput minumannya menggunakan sedotan jadi tersedak.
"Lo gimana sih, Da? Minum coklat aja bisa keselek. Kayak anak kecil aja,"
Pria itu lantas mengambil dua lembar tisu lalu mengusap ke bibirnya. Tisu yang diberikan Araceli untuknya . Mada pun tertawa terbahak-bahak dengan menampakkan gigi-giginya.
"Kenapa muka lo berubah jadi gitu, Da. Kesannya kan kayak lagi ngeledek?"
"Abis lo lucu sih. Gue jadi gemes tau,"
"Apanya yang bikin lo gemes?"
"Asal lo tau, ya. Lo itu gampang banget nge-judge orang. Pake ngatain Widya matre, tapi coba deh lo pikir-pikir. Apa bedanya dia sama lo?"
Merasa tersindir, Araceli pun refleks melempar tisu yang sedang dipegangnya ke wajah Mada. Bukannya marah, Mada malah tertawa makin keras melihat perubahan wajah sahabat perempuannya yang begitu sangat kesal.
***
Di lain tempat, kesal karena tamunya sedari tadi tidak kunjung pulang. Akhirnya Hartini mengambil sikap. Perempuan itu bergegas mengusir Pak Toto dari rumahnya.
"Saya rasa Bapak sudah tidak ada kepentingan lagi di sini. Jadi, saya minta sampeyan pulang saja, lagi pula sekarang sudah sore!"
"Har, ade ape dengan kau ni. Biarlah kawan awak tetap di sini je?" tanya Sartono.