AKAD

Dini Kirani
Chapter #43

Tersadar

Hari menjelang sore, tapi Araceli tidak mau ditinggal pergi. Mada yang masih berada di restoran hotel hanya bisa terdiam. Dia lantas memesan kamar agar sahabatnya itu bisa beristirahat. Sementara dirinya berniat untuk kembali ke kantor. Mengerjakan lagi tugasnya yang dia tinggalkan sementara untuk menuruti keinginan Araceli.

Mada pikir perempuan itu hanya mengajaknya untuk makan siang dan mengobrol sembari tukar pikiran seperti biasanya. Namun, setelah dia menceritakan semua yang telah terjadinya. Entah mengapa, Araceli malah menjadi ketakutan dan tidak ingin ditinggal sendirian. Katanya, hatinya tiba-tiba merasakan sesuatu Jika dia sendirian berada di hotel.

Araceli menginginkan Mada ada bersamanya sepanjang hari sehingga Mada berinisiatif memesan sebuah kamar untuk perempuan itu. Mada pikir, mungkin dengan cara ini. Araceli bisa beristirahat menenangkan pikiran dan tubuhnya sementara. Agar dia merasa lebih fresh begitu keluar dari hotel. Namun ternyata, niat baik itu malah disalah artikan. Araceli meminta menemani dan menjaganya di sepanjang hari.

Jelas Mada menolaknya. Saat ini dia bukan lagi anak kuliahan yang dapat cabut dan pulang kapan saja sesuka hatinya. Bukan pula seorang yang pengangguran yang memiliki banyak waktu luang karena tidak terikat pada sebuah pekerjaan. Mada adalah CEO serta pewaris perusahaan milik almarhumah neneknya yang setiap waktunya dianggap berharga baginya.

"Ayolah Mada sehari ini aja. Lo gak usah balik ngantor lagi. Di sini aja temani gue,"

"Tapi, Ra. Gue lagi banyak kerjaan ini, gue itu mau-,"

Mada langsung menghentikan ucapannya.

"Kok diam lanjutin dong omongannya. Tanggung nih biar gue juga tau, apa alasannya,"

"Gue mau cuti kerja,"

"Cuti kerja, buat apa. Lo mau liburan ya, gue ikut dong?"

"Bukan liburan, tapi mau ke kampungnya Widya. Gue mau ngomong dan meminta maaf langsung sama dia dan keluarganya tentang nikah kontrak waktu itu,"

"Jadi, lo mau ngasih kejelasan, gitu. Soal nikah kontrak itu. Jangan bilang lo mau cerai atau malah lo itu,'

"Jangan bilang lo udah suka atau malah cinta sama cewek itu. Iya kan, Da!"

Mada menggeleng pelan

"Soal suka atau gak. Cinta atau gak. Bukan itu masalahnya, Ra,"

"Jadi, apa alasannya dong. Kalo bukan rasa. Sampai-sampai lo mau ke kampungnya segala?"

"Soalnya sejak Widya pergi dari rumah. Gue jadi merasa bersalah, Ra."

"Gue langgar janji sama dia dan gara-gara itu gue jadi semakin merasa bersalah, Ra,"

Lihat selengkapnya