Keringat sebesar biji jagung tampak membasahi sekujur dahi Widya. Kepalanya pun menoleh ke kiri dan ke kanan. Sepertinya perasaannya sedang tak tenang meski kedua matanya masih terpejam. Begitu sangat ketakutan. Di dalam mimpi itu, Widya melihat jelas dengan mata dan kepalanya sendiri Mada mengalami kecelakaan lalu lintas yang begitu tragis. Kendaraannya tertabrak, lalu terjungkal, dan akhirnya terbakar.
"Pak Mada!" serunya.
Seketika Widya membuka mata. Mengembuskan napas lega karena ternyata semua itu hanyalah mimpi buruk belaka dan berharap kejadian itu tak akan pernah menjadi kenyataan. Widya kemudian menggerakkan badannya bangun dan mendapati dirinya sudah tidur sendirian karena jam dinding sudah pukul lima pagi.
Dan setelah dua adiknya berangkat ke sekolah. Widya meminta izin pada ibunya. Dia ingin pergi ke pasar. Awalnya, Hartini melarang lantaran Widya baru saja membaik. Setelah tiga hari terbaring lemah di ranjang kamarnya. Namun, Widya bersikeras. Dia beralasan ingin berolahraga, berjalan kaki seraya menikmati udara dan hangatnya sinar matahari.
Tapi tujuan Widya ke luar sepagi ini bukan semata hanya pergi ke pasar sambil menikmati udara pagi. Lebih dari itu, dia ingin mengambil sebagian uang yang ditransfer Mada untuknya. Uang itulah yang akan dia berikan pada Pak Toto sebagai uang pengembalian bunga utang ayahnya.
Selain itu, Widya ingin bicara empat mata dengan Mada, bos sekaligus suami kontraknya mengenai pernikahan dan kondisinya kini. Namun, sudah lebih dari dua puluh kali dia menghubunginya baik panggilan maupun pesan singkatnya.
Tak ada satupun di respons balik oleh Mada bahkan saat Widya bermimpi buruk tentangnya. Dia ingin segera mengkonfirmasi kondisi laki-laki itu saat ini. Tapi lagi-lagi tak ada balasan apapun darinya, padahal kemarin saat Widya menerima pesan darinya. Mada menuliskan pesan ingin bicara dengannya bahkan ingin secara langsung. Itu berarti kemungkinan akan ada pertemuan langsung antara dirinya dan Mada.
Entah Widya yang akan menemui atau malah Mada yang memberanikan diri menemui perempuan itu di kampung halamannya. Situasi ini terasa aneh, janggal, dan mencurigakan, tapi Widya tak bisa berbuat apa-apa, hanya berpikir positif dan menunggu balasan darinya. Mungkin Mada sedang banyak urusan atau pekerjaan yang memang harus segera dia selesaikan sehingga belum cukup punya waktu untuk sekedar membalas panggilan atau pun pesan darinya.
***
Di lain tempat, Mada tersadar dirinya mendesis merasakan sakit di kepala hingga sekujur tubuhnya yang terasa perih dan pegal-pegal. Perlahan dia mencoba membuka mata. Namun, yang dia rasakan terasa berat dan gelap. Pria itu lantas berteriak memanggil semua asisten rumah tangganya lantaran dia merasa sedang berada di kamar pribadinya di rumah.
"Bi Pini, tolong nyalain lampunya. Badanku sakit semua nih gak bisa gerak apalagi bangun!"
"Ke mana sih, tuh orang?!"
"Bi Piah, tolong nyalain dong, lampunya. Badanku lagi pada sakit semua. Jadi, gak bisa banyak gerak!"