Perdebatan panjang antara Widya dengan Pak Toto belum berakhir. Widya tetap pada pendiriannya. Bersikeras menyerahkan uang yang selama ini diminta laki-laki tua itu sesuai nominal yang dipatoknya.
Uang bunga atas utang keluarganya sebesar tiga puluh juta rupiah. Semula uang sebesar itu memang diinginkan Pak Toto agar keluarga sahabatnya itu segera membayar tanpa embel-embel di belakang. Namun kini, Pria berusia enam puluh tahunan itu. Sudah tak memiliki niat yang menggebu-gebu tentang uangnya itu.
Semua terjadi lantaran witing tresno jalaran soko kulino dengan Widya. Menagih utang hingga berdebat di rumah perempuan itu membuat hati Pak Toto menjadi berbunga-bunga setiap kali melihat Widya. Dia mulai merasakan getaran dalam hati. Ya, laki-laki paruh baya itu mulai menaruh perasaan setiap kali dia menatap Widya.
Bukan lagi menganggapnya sebagai anak dari sahabatnya, tetapi memandang Widya sebagai perempuan dewasa dengan kecantikan dan keanggunan dari sudut kacamata seorang pria yang mulai merasakan ketertarikan lebih dalam. Hatinya merasakan kembali rasa jatuh cinta dengan lawan jenis. Meski setiap kali melihatnya. Widya selalu marah-marah kepada dirinya.
Dasarnya Widya memang sudah cantik dari sananya. Tak peduli dengan perbedaan usia yang mencolok dengan perempuan itu Kira-kira seperempat abad lebih dari usianya saat ini. Tapi kemarahan serta ucapan kasarnya yang kadang bisa menusuk hati pun sudah tak dianggap menyakiti hatinya lagi. Semua itu karena Pak Toto sedang merasakan puber kedua dalam dirinya.
Memang diakui niat awal hanya ingin menjodohkan anaknya dengan adik dari Widya. Namun, di tengah perjalanannya rencana itu berubah. Berubah total dan malah dianggap frontal. Pak Toto diam-diam menyukai Widya yang kecantikannya menurut laki-laki itu tampak alami meski wajahnya jarang sekali dipoles make up tebal.
***
Dengan disaksikan kedua orang tuanya, Darmono, dan juga Juminah tetangga sekaligus orang tua Ratna, sahabatnya sebagai saksi. Widya menyerahkan uang sebesar tiga puluh juta rupiah yang diminta Pak Toto. Hatinya sangat lega lantaran utang yang sedari dulu menjadi beban pikiran akhirnya terbayar lunas tanpa tersisa apapun.
Terpaksa mau tak mau Pak Toto menerima uang yang dimasukkan dalam kantong kresek hitam tebal itu. Terlihat raut wajahnya tak senang karena dengan begitu keinginannya untuk mendekati Widya lalu mengajaknya menikah sudah dipastikan hancur berantakan. Tak akan ada lagi alasan ataupun ancaman untuk bisa menemui perempuan yang sudah menjadi incarannya dalam dua bulan terakhir ini.
"Saya harap ini menjadi uang terakhir yang saya berikan untuk membayar utang,"
"Besok-besok ndak akan pernah lagi. Baik saya maupun keluarga saya. Berutang atau berurusan dengan Pak Toto lagi,"
"Tapi Widya, sumpah lahir batin saya ikhlas. Andaikan kamu ndak mampu bayar utang ini. Lagi pula utang awal Bapakmu kan sudah kamu lunasi,"