Dua Minggu sudah Mada berada di rumah. Laki-laki itu kini tak lagi bisa bekerja memimpin sebuah perusahaan seperti biasa. Kondisinya yang kini buta akibat menjadi korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi satu bulan lalu membuatnya terpaksa menghabiskan banyak waktunya hanya di dalam kamar saja. Dia masih meratapi akan nasib dan kondisinya yang tiba-tiba berubah drastis tiga ratus enam puluh derajat celsius.
Bukan hanya kedua indra penglihatannya yang tak bisa lagi melihat. Namun, juga mentalnya yang juga tergoncang hebat akibat kecelakaan itu. Untuk sementara ini perusahaan yang biasa dipimpinnya diambil alih kepemimpinannya oleh Annawati, ibunya. Perempuan itu kini bertanggung jawab penuh atas karyawan dan pabrik yang dibangun oleh ibunya.
Meski begitu Anna juga masih tetap berkoordinasi dengan sang suami, dalam menjalankan usaha yang mereka rintis sendiri walau keduanya kini sering menjalani hubungan jarak jauh. Ini dilakukan agar kedua perusahaan milik keluarga itu tetap berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada kendala maupun hambatan.
Pasangan suami istri itu juga sedang berusaha agar secepat mungkin putra sulungnya yang sedang tertimpa musibah itu dapat segera pulih dan kedua penglihatannya dapat kembali normal seperti sediakala meski untuk melakukan itu kemungkinan besar keduanya akan membawanya berobat ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lagi.
Dalam hal ini bukan perkara berapa besar dana yang harus dikeluarkan untuk menjalani pengobatan, tetapi permasalahan yang harus dihadapi. Yaitu, merayu sang anak untuk segera menjalani pengobatan. Entah akan dilakukan di rumah sakit dalam ataupun luar negeri. Agar anaknya itu dapat kembali pulih. Namun, dampak kecelakaan itu ternyata membuat bisa membuat Mada berubah total. Pria itu kini menjadi lebih sensitif. Dia mudah tersinggung, emosional, dan amarahnya yang sering meledak-ledak.
Melihat anaknya yang kini berubah total akibat kecelakaan. Anna dan Agung pun tidak tinggal diam. Mereka akhirnya membuat keputusan akan membawa sang anak ke tempat yang lebih aman, tenang, dan jauh dari hiruk-pikuk kota yang mungkin saja membuat anaknya menjadi stres. Pasangan itu pun akhirnya memilih Villa milik keluarga yang ada di daerah puncak Bogor sebagai alternatif tempat tinggal sang anak untuk sementara.
Dan bukan hanya itu, Anna juga rutin mendatangkan psikolog seminggu sekali agar perubahan yang terjadi pada sang anak tidak benar-benar merusak mental dan kehidupannya kelak sembari terus menanyakan rumah sakit yang bersedia menangani pembedahan untuk penglihatannya agar Mada bisa segera pulih kembali.
***.
Obrolan santai saat di dapur.
"Mbak Piah, kok aku jadi sedih ikutan sedih ya. Lihat kondisi Den Mada yang sekarang.,"
"Iya Pin, aku juga ndak nyangka orang sebaik dia kok ya, bisa dapat musibah kayak gitu,"
"Apalagi Den Mada itu cuma korban. Lah wong yang nyetir itu Mbak Araceli. Untung aja katanya dia sudah koit. Gara-gara kecelakaan itu,"
"Tapi Mbak, perubahan Den Mada itu loh drastis banget. Aku aja kadang takut juga, kadang sedih juga, lihatnya,"
"Ya, gimana ndak begitu. Kalau kamu jadi dia juga. Kamu bakal syok tiba-tiba jadi korban kecelakaan. Udah gitu matanya langsung jadi buta,"
"Iya, Mbak. Orang yang tadinya setiap hari wara-wiri sibuk kerja dari pagi sampai malam. Tiba-tiba sekarang cuma bisa di rumah. Di kamar lagi ndak bisa lihat apa-apa,"