AKAD

Dini Kirani
Chapter #50

Minta Izin

Keputusan Widya sudah bulat. Dia harus kembali ke kota. Mencari kembali pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga. Selain pekerjaan ada hal lain yang harus Widya selesaikan dengan seseorang. Yakni, tentang kondisinya yang selama ini dia sembunyikan dari keluarganya.


Bukan tanpa alasan dia melakukan itu. Selain karena ayahnya yang sudah pulang dari merantau dan kini jatuh sakit. Kondisi ibunya yang juga kerap kali jatuh sakit membuat Widya menutupi kondisi dirinya


Bagaimana jadinya jika kedua orang tuanya tahu akan hal ini.?Terlebih kedua orang tuanya dan juga kedua adiknya tidak mengetahui bila di kota Widya sudah menikah siri dengan bosnya.


Dalam pikirannya sekarang, selain mencari pekerjaan di kota. Perempuan itu ingin menemui mantan bosnya itu. Widya akan memberanikan diri berterus terang pada laki-laki itu. Tentang kondisinya saat ini. Dia juga ingin mendapat kepastian pertanggung jawaban untuk kondisi dan calon buah hatinya kelak.


Sejujurnya, Widya takut akan mengungkapkan hal itu. Dia takut jika dia akan mendapat penolakan darinya dan keluarganya. Namun, naluri keibuannya sudah mulai bekerja. Ini semua demi sang anak, Widya harus melakukannya. Demi calon sang buah hati dan masa depannya sendiri. Agar Widya dan anaknya kelak tidak mendapatkan stigma negatif di masyarakat tentang pernikahannya yang dijalaninya.


***


Sore menjelang malam di dapur. Seperti biasa Hartini dan Widya akan menyiapkan makan malam untuk anggota keluarganya.


"Bu, ada pertanyaan yang Widya mau tanyakan?"


"Apa itu, Wid?"


"Sudah tiga Minggu ini Bapak sakit, tapi Ibu malah telaten dan juga sabar merawat Bapak. Apa ndak pernah terbersit di hati Ibu dendam pada Bapak?"


"Hust... Kamu ini ngomong apa. Bisa-bisanya kamu ngomong dendam padahal itu Bapakmu sendiri?"


"Ya, tapi 'kan dia sudah bertahun-tahun menelantarkan kita. Sampai satu dasawarsa loh, Bu,"


"Lalu kita harus dendam begitu maksudmu. Di saat Bapakmu itu sudah ndak berdaya seperti itu. Tega sekali ya, kamu, Wid. Lalu mau kamu usir dia dari rumah ini, Iya. Di mana hati nalurimu sebagai anak, Widya?!"


"Bu, mungkin penyakit yang diderita Bapak itu teguran dari Allah karena dulu sudah menelantarkan kita ,"


"Lalu kamu mau balas perbuatan itu. Kamu mau Bapakmu telantar, begitu,"


"Dengar ya, Wid. Kalau kamu melakukan dendam, bukan hanya Bapak yang akan terlantar, tapi juga Rizwan anaknya,"


"Kamu punya pikiran begitu, ndak. Apa jangan-jangan, karena soal biaya perawatan yang kamu keluarkan buat Bapakmu kemarin. Selama dia di opname,?"


Widya terdiam.


"Kamu ndak ikhlas, mau minta ganti sama Ibu, atau duit simpananmu memang sudah habis?"


"Kalau begitu. Ndak usah khawatir akan segera Ibu ganti duitnya,"


Widya tetap diam, tetapi kepalanya menggeleng pelan.


Lihat selengkapnya