Siang saat terik matahari begitu menyengat. Seorang laki-laki yang bekerja sebagai sopir tampak dari pakaian yang dikenakan. Mendatangi sebuah warung makan yang sudah tampak lengang dari pengunjung. Widya yang sekarang bertugas menjaga warung menggantikan posisi rekannya yang baru saja beristirahat.
"Mbak, mau makan di sini ya,"ucapnya.
Widya yang sedang sibuk merapikan menu jualan di lemari etalase pun seraya menoleh ke arah sang calon pembeli itu.
" Ya, Pak boleh," ucapnya. Tanpa melihat wajah sang pembeli, tapi saat dia dia mendongak. Widya baru menyadari siapa sang pembeli itu.
"Pak Anto!"
"Widya, kok kamu di sini. Udah berubah lagi,"
Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Kenapa kamu ada di sini?" ucap Pak Anto sambil terus memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang kini sudah mengenakan pakaian tertutup dan berhijab.
"Nanti saya ceritakan. Pak Anto mau makan apa?"
"Nasi satu, orek tempe, capcay. Terus itu yang dibungkus daun pisang apa, ya?"
"Oh ini pepes ikan bawal, Pak Anto mau?"
"Oke, sama itu aja,"
"Kalau minumnya, Pak?"
"Air putih pake es batu,"
Pak Anto sudah menerima piring yang berisikan semua makanan yang diinginkan. Dia lantas mengedarkan pandangannya. Mencari tempat duduk untuknya makan. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman. Laki-laki itu lantas menghampiri lalu duduknya seraya menunggu Widya yang membawakan minum yang sudah dia pesan.
"Ini Pak minumnya,"ucap perempuan itu seraya meletakkan gelas besar berisikan air putih dan es batu di dalamnya.
"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?"
"Ah, belum ada satu Minggu, Pak,"
"Oh, masih masa percobaan ya,"
Widya mengangguk lalu tersenyum tipis.
"Kenapa bisa kamu pulang kampung? Terus, kenapa juga gak balik lagi aja kerja sama Den Mada?"
"Awalnya dapat kabar dari adik. Kalau Ibu sakit, terus ketika masih di kampung. Ternyata ada masalah juga yang harus buru-buru saya selesaikan,"
"Jadi, karena sudah terlalu lama di sana. Sampai ndak enak hati. Malu kalau saya minta balik lagi kerja dengan Pak Mada,"
"Ya sudah. Saya putuskan untuk mengundurkan diri saja baik-baik, mencari pekerjaan di tempat baru, dan akhirnya saya kerja di sini,"
"Tapi kamu 'kan masih ada ikatan pernikahan sama Den Mada. Walaupun pernikahan itu cuma siri,"