Dua minggu sudah Widya bekerja menjadi asisten pribadi Mada. Selama itu pula laki-laki itu belum mengetahui siapa sebenarnya asistennya itu. Namun, anehnya sifat Mada malah banyak berubah. Jadi lebih kalem, tidak banyak komentar, dan jadi penurut dibanding dengan asisten yang lalu-lalu.
Entah doa atau obat apa yang digunakan Widya untuk meluluhkan laki-laki itu. Sehingga menjadi seperti sekarang atau malah Mada sendiri yang sudah malas berdebat dengan asisten barunya, karena setiap kali sedang melakukan tugasnya. Widya selalu diam seribu bahasa seolah-olah dia menjadi orang yang benar-benar menyandang tuna wicara sehingga tak salah. Jika Mada berpikiran demikian.
Tentu ini aneh di mata Bi Yoyoh. Mengapa bisa majikannya itu berubah dalam waktu singkat? Bi Yoyoh tidak sekali, dua kali menanyakan hal yang sama. Tentang perubahan yang terjadi pada Widya. Namun, jawabannya tetaplah sama. Dia memilih diam setiap kali sedang melaksanakan pekerjaannya. Jika sedang bersama dengan Mada.
Dan ini sejalan dengan apa yang diucapkan Mada pada perempuan paruh baya itu. Setiap kali dia bertanya perihal demikian pada majikannya. Bahwa benar Mada mengira asisten barunya itu merupakan orang dalam berkebutuhan khusus, dalam hal ini penyandang tuna wicara alias bisu.
***
Siang menjelang sore hari. Saat hujan deras mengguyur kota.
"Neng, saya bingung sama jalan pemikiran, Neng Arum. Kenapa Neng malah milih pura-pura bisu di depan Den Mada padahal Neng bisa bicara?"
"Ya, ndak usah bingung-bingung, Bi. Ini semua kan saya lakukan karena ada alasannya,"
"Apa alasannya?"
"Saya butuh pekerjaan ini dan saya harus tetap bekerja di sini,"
"Saya butuh uang, Bi. Untuk kebutuhan hidup keluarga saya di kampung halaman. Saya ini tulang punggung keluarga,"
"Ada banyak orang yang harus saya beri nafkah. Kedua orang tua dan tiga adik saya yang masih bersekolah,"
"Saya kan sudah tau Pak Mada dari Nyonya Anna, Mang Ecep atau Bi Yoyoh sendiri,"
"Pak Mada selalu memberontak. Setiap kali ada perawat baru yang ingin merawatnya. Apalagi saya ini perempuan, Bi,"
"Pak Mada pasti ndak bakalan mau. Kalau tau saya ini perempuan. Makanya saya pura-pura bisu. Karena itu bisa menutupi siapa saya sebenarnya. Agar saya tetap bisa bekerja di sini sebagai asistennya,"
"Oh, jadi ini alasannya. saya paham sekarang, maksud Neng selama ini diam di depan Den Mada karena mau nutupi jati diri,"
"Saya juga minta kerja samanya ya. Sama Bi Yoyoh maupun Mang Ecep,"
"Ah, kalo soal itu mah beres, Neng. Neng gak perlu khawatir kalau soal itu!"