Masuk ke kamar Mada, Widya langsung membulatkan kedua matanya . Melihat ruangannya sudah mirip sekali pesawat terbang yang hancur dalam sebuah kecelakaan.
"Ya Allah, Pak. Kenapa tempatnya berantakan begini?" tanyanya refleks berbicara.
Namun, perempuan itu segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan sembari menggeleng kepala karena menyadari kesalahan yang dia buat sendiri.
Mendengar suara itu, Mada yang sedang berdiri menghadap jendela. Seketika berbicara.
"KEMARI KAMU! MENDEKAT! CEPAT!!!"
Mendengar perintah Itu Widya yang semula masih berada di ambang pintu sambil merapikan barang-barang yang tergeletak di lantai. Seketika bergerak mendekatinya meski tampak kemarahan yang sudah tergambar jelas di raut wajahnya dan Widya sudah terlihat pasrah.
Jika dia akan dimarahi habis-habisan oleh suami siri merangkap bosnya itu. Tanpa ada keraguan sedikitpun dia mendekat dan berhadapan tanpa ada sekat dengan laki-laki yang selama dua minggu ini telah dia rawat.
Mada mendesis, wajahnya kemerahan sangar. Laki-laki itu lantas mencengkram kedua bahu Widya hingga perempuan itu meringis kesakitan. Dengan sedikit tenaganya Mada melempar tubuhnya hingga tubuh perempuan itu terjatuh di lantai. Reflek Widya memegang bagian perutnya. Takut jika akan terjadi apa-apa karena insiden ini.
"APA KARENA KEADAAN SAYA YANG SEPERTI INI DAN GAK BISA APA-APA LAGI. JADI, DENGAN SEENAKNYA KAMU DAN LAINNYA BISA MEMBODOHI SAYA!"
"BERPURA-PURA BISU, TULI AGAR KAMU AMAN, TERHINDAR DARI KEMARAHAN , MAKIAN, BENTAKAN DARI SAYA. IYA,?!"
"Bukan, Pak. Bukan seperti itu dipikiran saya,"
"BAPAK! KATAMU, SEJAK KAPAN SAYA MENIKAH DENGAN IBUMU? SEHINGGA KAMU BISA NGOMONG SEPERTI ITU!"
"Lalu saya harus ngomong, apa?"
"GAK PERLU LAGI KAMU BANYAK OMONG. KARENA SAAT INI JUGA, KAMU SAYA PECAT. GAK SUDI SAYA BEKERJA DENGAN PENIPU MACAM KAMU!"
"MENGHALALKAN SEGALA CARA DEMI MENDAPAT APA YANG KAMU MAU!"
Mendengar perkataan itu, Widya yang masih berada di lantai lantas mendekat dan bersimpuh di kaki Mada sambil memohon maaf.
"Maafkan saya, Pak. Saya yang salah, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan,"
"SAYA GAK PEDULI SEGERA ANGKAT KAKI DARI RUMAH INI ATAU SAYA TIDAK AKAN SEGAN-SEGAN MEMINTA BANTUAN KEPOLISIAN,"
"UNTUK MEMENJARAKAN KAMU KARENA TELAH BERANI MENIPU DAN MEMANFAATKAN SAYA YANG BUTA UNTUK KEPENTINGAN DIRIMU SENDIRI!"
Kedua mata Widya sudah berlinang. Airnya sudah berlomba-lomba menetes. Entah kenapa sisi emosionalnya meluap melalui linangan di kedua matanya.
"Ampuni kesalahan saya, Pak. Saya janji ndak akan pernah lagi menipu Pak Mada. Saya mohon jangan pecat saya,"
Volume suara Mada pun akhirnya melunak. Setelah dia mendengar isak tangis perempuan yang ada di hadapannya. Suara itu mengingatkannya dengan seseorang.