AKAD

Dini Kirani
Chapter #61

Sentuhan yang Menggetarkan

Mendengar pengakuan itu, Mada terdiam. Suasana seketika hening.


"Pak, saya mohon. Izinkan saya tetap bekerja di sini. Bagaimana nasib saya dan keluarga saya. Jika saya benar-benar akan dipecat dari sini?"


Widya terus memohon agar dirinya tetap bekerja menjadi asisten pribadi Mada. Sementara laki-laki itu hanya terdiam di hadapannya. Masa lalunya seolah kembali berputar diingatkannya. Masa di mana istri sirinya belum meninggalkan dirinya.



Widya lalu bersimpuh, dia masih memohon agar dirinya tidak dipecat. Mada tersadar dari lamunan setelah dia merasakan ada yang memeluk betisnya.


"Ngapain kamu di bawah seperti itu. Cepat bangun!,"


"Kamu gak papa 'kan, Rum?"


"Maksud, Pak Mada?" tanyanya seraya mengusap air mata secara kasar.


"Kandungan kamu baik-baik aja 'kan. Tadi pas kamu masuk yang pertama. Saya dalam kondisi emosi. Saya ingat betul, badan kamu, saya lempar,"


"Oh soal itu, saya ndak papa. Alhamdulillah, ndak terjadi apa-apa, semuanya sehat wal afiat,"


"Bi Yoyoh!" Mada berteriak.


Posisinya yang masih duduk di lantai membuat Widya menjadi kebingungan.


"Kenapa dia malah panggil Bi Yoyoh?" tanyanya dalam hati.


Dan tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Terdengar suara derit pintu. Buru-buru Widya bangun dari lantai dan berdiri di hadapan Mada.


"Den Mada, panggil saya. Apa sotonya kurang enak, atau karena ada yang lain?"


"Bukan soal soto, tapi saya mau tanya soal lain. Eh, Bi Yoyoh malah udah nyerocos duluan,"


"Eh iya, Maaf, Den,"


"Mau tanya soal apa?"


"Di daerah sini, di mana rumah sakit terdekat?"


"Rumah sakit! Emang Den Mada sakit apa lagi?"


"Jauh, Den. Bisa makan waktu satu jam lebih,"


"Kalo klinik, ada gak?"


"Ada, tapi bukanya sore. Udah gitu ngantri kalo mau berobat,"


"Dokternya laki-laki, apa perempuan?"


"Laki-laki, kalo mau yang perempuan juga ada, tapi dia bidan. Namanya bidan Sum. Tempatnya kira-kira dua ratus meter dari sini,"


Lihat selengkapnya