Bukan hanya Widya yang merasa kebingungan, tapi juga Mada dengan dirinya sendiri. Namun yang membedakan, jika Widya bingung dengan tingkah laku Mada yang tiba-tiba berubah. Setelah menyentuh perutnya. Lain halnya dengan Mada, dia malah mendorong asistennya itu
Mada jadi teringat akan Widya itu sendiri. Selama ini dirinya merasa bersalah atas kejadian di malam itu. Malam yang membuat Widya pergi meninggalkan rumahnya. Belum lagi kondisi ini diperparah karena dirinya harus menjadi korban kecelakaan yang mengakibatkan dia mengalami kebutaan sehingga rencana yang telah dia susun dengan rapi.
Harus gagal berantakan di tengah jalan karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertemu dengan perempuan itu. Pernah terbersit dalam pikirannya. Bahwa perempuan yang kini menjadi asistennya ini adalah Widya istri sirinya. Namun, buru-buru pikiran itu diralat sendiri oleh Mada. Mada percaya bahwa di dunia ini Tuhan menciptakan tujuh karakter dan rupa manusia yang sama dengan Widya istrinya
***
"Widya!"
Mata yang terpejam itu, perlahan terbuka. Dia tersentak karena apa yang dialaminya di alam mimpi. Meski tak lagi bisa melihat apa yang ada di sekeliling kamarnya. Namun, Mada bisa merasakan dan meraba akan waktu yang bisa dia rasakan. Sebuah kehangatan sinar matahari yang perlahan masuk ke dalam ruangan menembus lewat kaca jendela di kamar.
Beringsut lalu beranjak keluar dari kamar. Setelah laki-laki itu membersihkan diri dan berganti pakaian. Dengan tongkat yang kini menjadi teman setia untuk membantunya berjalan. Mada lalu bersuara lantang memanggil-manggil nama seseorang.
"Arum!"
"Arum Hartini!"
Serunya dan bukan hanya sekali, tapi sampai tiga kali nama itu disebutnya. Namun, sayang perempuan itu belum juga hadir di hadapan seperti biasanya. Mada pun beralih menyebut nama seseorang.
"Bi Yoyoh!"
Dan tak lama suara sahutan pun terdengar meski dari kejauhan.
"Ya, Den Mada," dengan suara yang terdengar tersengal-sengal.
"Den Mada panggil, saya?"
"Kenapa suaranya berubah begitu?"
"Capek, Den. Saya lari,"
"Lari! Buat, apa?"
"Saya pulang ke rumah sebentar. Mang Ecep habis saya kerokin. Dia gak enak badan lagi,"
"Ya udah, sana bawa aja Mang Ecep ke puskesmas atau ke klinik. Nanti biar saya yang bayar biaya periksa dan obatnya,"
"Tapi, Den,"
"Sakit kok pake tapi-tapi. Udah nanti sore aja ke kliniknya. Kalo gak kuat jalan, naik aja ojek atau sewa angkot. Nanti saya yang bayar sekalian,"
"Sekarang saya mau tanya. Di mana, Arum. Saya panggil-panggil dia gak nyahut-nyahut?"