Pagi yang cerah, udara yang sejuk. Selepas sarapan Mada duduk-duduk santai. Namun, kali ini dia memilih taman sambil menikmati sinar matahari dan angin yang perlahan berembus semilir. Sedangkan Widya sibuk mencuci piring dan peralatan masak yang satu jam lalu dia gunakan.
Maklum saja, sudah dua hari ini Bi Yoyoh izin tidak bekerja mengerjakan pekerjaan rumah tangga di Villa.
Ini sebabkan, karena Mang Ecep, suaminya sakit terserang demam berdarah dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Jadilah sejak dua hari ini Widya seperti istri dan ibu rumah tangga seutuhnya yang setiap harinya melayani suami dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri tanpa bantuan dari asisten rumah tangga lainnya.
Ting tong!
Suara bel dari kejauhan terdengar. Namun ,Widya belum ingin berhenti dari pekerjaannya di dapur. Perempuan itu kembali menyibukkan diri dengan membuat kue bolu hijau kukus rasa pandan yang akan segera dikukusnya. Karena sejak semalam Widya mengidam menginginkan makanan tersebut.
Sibuk dengan urusan dapur hingga dia melupakan tamu yang belum juga mendapatkan respon. Kembali suara bel bunyi terdengar. Sepertinya benar-benar menginterupsi Widya untuk segera berhenti dari pekerjaannya di dapur.
Ting tong!
"Ya, tunggu sebentar!" teriaknya lantang.
Widya lari tergesa-gesa dari dapur ke halaman Villa. Membuka sedikit pintu gerbang yang terkunci. Kedua matanya langsung menyipit setelah memandangi bagian orang yang kini ada di hadapannya. Seorang laki-laki yang tak dikenalnya dan benar-benar orang asing.
Ya, dia orang asing. Seorang bule dengan perawakan yang tinggi, besar, berkulit putih, dan berwajah latin. Tampaknya laki-laki yang ada di hadapannya ini bukanlah orang Indonesia dan bisa jadi dia bukan orang baik-baik.
"Maaf, anda ini siapa, mau cari siapa, dan kenapa datang ke rumah ini?" cerocosnya pada laki-laki itu.
"Apa bisa saya bertemu Mada?"
"Anda bisa bahasa Indonesia? Apa anda rekan bisnisnya?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Tolong panggilkan Mada. Karena saya tidak punya waktu berlama-lama di sini,
Setelah berpikir agak lama dan terus mendengar rengekan permohonan laki-laki asing itu. Widya akhirnya membuka lebar pintu gerbang lalu melangkah ke teras diikuti orang tersebut.
"Tunggu sebentar. Anda duduk saja di sini. Saya akan panggil Pak Mada-nya,"
Laki-laki itu lantas duduk di bangku Sementara perempuan itu menemui Mada yang sedang duduk di bangku taman belakang villa.
"Maaf, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Mada,"
"Tamu, buat saya?"
"Ya, Pak. Katanya dia rekan bisnis, Pak Mada,"
"Rekan bisnis, siapa?" Mada berucap seraya berpikir siapa orang yang ingin menemuinya?
"Oke, saya akan menemuinya. Tolong kamu bantu saya berjalan,"
Sementara laki-laki yang menunggu sedang sibuk dengan ponsel di tangannya sembari menikmati udara segar dan sesekali melihat pemandangan yang ada di hadapan. Hatinya sedikit mencelus. Saat dia melihat kondisi laki-laki yang sedang berjalan menghampirinya.