"Ya, Mada. Ini gue, Araceli sahabat lo," sahutnya masih sesenggukan.
Perempuan itu masih tak kuasa membendung air mata. Dia sedih melihat nasib sahabatnya yang kini buta karena ulah dirinya dan suaminya yang cemburu buta.
"Buat apa lagi lo datang ke sini, Hah!?"
"Gu, gue pengen liat kondisi lo dan minta maaf, Da,"
"Minta maaf! Buat apa? Karena mata gua buta. Jadi, lo berdua pengen minta maaf?!"
Suasana seketika berubah. Mulai memanas, bukan hanya karena cahaya matahari saja yang mulai meninggi, tapi juga nada bicara Mada yang mulai meninggi. Laki-laki itu seperti menahan amarah dan rasa kecewa.
"Jawab, Ara! Jangan diam seribu bahasa!?"
Suara yang mengeras itu. Yang keluar dari mulut Mada. Ternyata mampu membuat perempuan itu tersentak. Air matanya kembali mengalir. Namun, kali ini lebih deras seolah enggan untuk dibendung.
"Gu. Gue sadar. Gue salah, Da. Dari dulu gue banyak menyusahkan lo atas perbuatan-perbuatan gue selama ini,"
"Dan gue anggap, ini adalah anti klimaksnya. Kesalahan ini besar banget dan gue pengen lo bisa maafin gue, Da. Gue tau, semua ini gak adil banget dan gak mudah buat lo. Bisa maafin gue dan Jeremy,"
"Dasar perempuan banyak omong, pecundang, egois, keras kepala, dan bodohnya gue pernah memaksakan hati gue buat terus mencintainya,"
"Menuruti semua keinginannya, meski hati dan pikiran gue udah bilang gak, jangan turutin,"
"Dari penolakan keluarganya lalu sekarang jadi korban kecelakaan,"
"Tapi karena itu, akhirnya gue benar-benar sadar dan bersyukur sepenuhnya. Kalo perempuan macam lo itu emang gak layak dan gak pantas buat gue, Ra!"
"Iya, Mada. Iya, semua yang lo omongin itu benar. Gue selalu berbuat semau gue, gue manja, gue manfaatin kebaikan lo. Gue akui itu, Mada!"
"Tapi Mada, gue mohon. Segeralah berobat. Gue dan Jeremy sudah siap buat nanggung semua biaya pengobatan itu buat lo,"
"Lo mau berobat di mana? Tinggal bilang aja. Di Jakarta atau di luar. Gue dan Jeremy siap memfasilitasi semuanya,"
Mada mendengus lantas tertawa sampai terbahak-bahak dengan perasaan hambar dan kecewa.
Mada bertepuk tangan seraya berkata.
"Bagus lo berdua punya inisiatif seperti itu. Mau ngobatin gue, memfasilitasi semuanya, karena rasa bersalah kalian,"
"Tapi kayaknya kalian menggampangkan suatu perkara, lo berdua sedang cuci tangan, karena kesalahan kalian perbuat. Lo berdua lupa ya, siapa gue?"