Widya terdiam dan ini menyiratkan apa yang diucapkan Pak Anto itu benar.
"Apa selama di kampung kemarin kamu menikah dengan laki-laki lain, Widya?"
Kepala perempuan itu menggeleng pelan.
"Apa berarti, bayi yang ada di perutmu itu anak Den-,?"
Belum selesai Pak Anto bicara, tapi kepala Widya sudah mengangguk.
"Apa dia tau?"
"Ndak tau," sembari kepalanya menggeleng.
"Kenapa Widya, kenapa kamu gak terus terang tentang kondisimu ini?"
"Tadinya saya juga berpikir seperti itu, Pak. Makanya, saya mau kerja di sini sesuai ajakan Bapak,"
"Tapi setelah saya tau, gimana kondisi sebenarnya Pak Mada. Saya mulai ragu,"
"Apa dia siap jadi ayah? Apa dia akan bertanggung jawab atas kehamilan ini?"
"Sedangkan kondisinya saja masih kacau balau. Ndak stabil akibat kecelakaan itu,"
"Saya ndak mau dia jadi tambah syok dan ndak siap lahir batin. Jika nerima kabar dari saya, apalagi pernikahan yang kami jalani,"
"Hanyalah pernikahan siri. Ndak ada surat legal. Ndak banyak orang yang tau,, nikahnya mendadak. Jangankan tamu, orang tua kami saja. Ndak ada yang tau,"
"Astaghfirullahalazim! Kenapa Widya, apa orang tuamu gak curiga dengan perubahan yang selama ini terjadi padamu?"
"Mereka mana ada yang curiga, Pak? Bapak saya memang sudah kembali dari merantaunya, tapi dia sibuk dengan kondisinya sendiri,"
"Begitu pun Ibu. Ibu sekarang sibuk merawat Bapak,"
"Memangnya kenapa, Bapakmu, Widya?"
"Dia kena stroke, gerakan kanannya berhenti total dan sekarang ndak bisa apa-apa,"
"Harus dibantu orang lain. Kalau mau beraktivitas,"