Widya merasakan kembali alasan, mengapa dirinya keluar dari kamar? Perempuan itu ingin menuntaskan hajatnya untuk buang air kecil. Dan setelahnya dia tidak kembali ke kamarnya, tetapi memilih ke kamar Mada. Melihat laki-laki yang kini sedang meringkuk kedinginan di tempat tidurnya.
Perempuan itu lantas memberanikan diri menyentuh tangan Mada. Ada getaran hebat sehingga membuat hatinya cemas. Widya ingin menolong. Namun, dia bingung harus bagaimana? Tiba-tiba terlintas ide untuk mengambil selimut di kamarnya. Namun, sebelum idenya terlaksana. Suara orang membuka pintu terdengar.
Buru-buru Widya menutup pintu kamar Mada lalu menguncinya dari dalam. Tak lupa dia mematikan pula lampu utama agar tampak seperti semula. Dan ternyata yang keluar adalah Anna. Perempuan itu hendak menuju dapur. Ini terdengar dari langkah kakinya berjalan. Sekian menit menunggu, tak ada tanda-tanda perempuan itu ingin kembali ke kamarnya. Entah, apa yang sedang dia lakukan di sana?.
Sementara Widya yang masih di kamar Mada sudah semakin cemas dengan kondisi laki-laki yang juga suami sirinya itu. Sekian menit berdiam akhirnya muncul ide dalam pikirannya. Meski sedikit timbul rasa ragu dan juga ketakutan, tapi tak ada cara lain. Dan sepertinya ide inilah yang harus segera Widya jalankan.
"Maaf, Pak Mada. Saya bertindak sembrono bahkan kurang ajar pada Bapak,"
"Izinkan saya malam ini menjadi perempuan nakal untuk Bapak,
"Sekali ini saja ya, Pak,"
Gumamnya sembari tangannya mulai sibuk melucuti satu per satu pakaian yang dikenakan Mada yang sudah basah dengan keringat dingin.
Meski dalam pengerjaannya, tangannya pun juga gemetar, tapi apa boleh buat. Jika tidak dilakukan sekarang. Bisa-bisa Mada akan sakit. Misalnya demam. Di tengah melakukan pelucutan pakaian. Tiba-tiba mulut laki-laki itu berucap.
"Kamu mau apakan saya, Widya?"
"Saya tidak sedang bermimpi 'kan, Widya?"
Igaunya sembari reflek tangannya memegangi tangan Widya yang sibuk melucuti pakaian yang dikenakannya satu per satu.
Meski terdengar menggumam. Namun, ucapan dan pegangan itu mampu membuat Widya tersentak. Mengapa bisa Mada mengetahui apa yang sedang dilakukannya? Sementara laki-laki itu masih dalam keadaan tertidur lagi pula pencahayaan di dalam kamar pun sudah remang-remang lantaran hanya menggunakan lampu tidur biasa.