Pintu kamarnya dibuka. Di lihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit. Jika Widya kembali tidur, takut dirinya malah akan kesiangan bangun mengingat hanya dia yang akan mengurus segala urusan perdapuran dan lain-lain selagi Mang Ecep dan Bi Yoyoh di rumah sakit.
Maka, tanpa pikir panjang perempuan hamil itu segera mengambil handuk lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Widya segera melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah yang taat. Setelahnya dia tidak berdiam di kamar, tapi memilih ke dapur. Mulai memikirkan menu apa yang akan perempuan itu masak untuk sarapan pagi ini.
Widya lantas teringat dengan lontong sayur. Karena sejak semalam menu itulah yang ada di pikirannya. Lontong sayur bersama lauk pauk pendamping seperti telur balado, tempe dan tahu tepung. Rasanya pas disajikan pagi ini untuk menu sarapan.
Tangannya lantas mengambil beras di box penyimpanan. Cukup dua gelas dan dimasak seperti biasa. Namun, kali ini dengan air yang sedikit lebih banyak dari biasanya. Sebab, Widya akan membuat lontong rice cooker untuk mempersingkat waktu.
Setelah itu, dia bergerak mengambil labu siam, tempe, tahu, dan ayam yang sudah dia ungkep kemarin kulkas. Kemudian, saat dia akan meracik bumbunya seseorang datang dari arah belakang seraya dan bertanya.
"Kamu masak apa pagi ini, Rum?"
Kalimat itu membuat Widya tersentak. Segera dia menoleh lalu menjawab.
"Anu, Nyonya. Masak lontong sayur,"
"Hmm, lontong sayur ya. Kayaknya enak juga buat sarapan,"
"Nyonya, kok sudah bangun sepagi ini?"
"Saya tiba-tiba kebangun, pas lihat jam. Sudah jam lima pagi. Ya, sudah saya langsung bangun buat salat Subuh. Pas selesai, buka pintu kamar. Ada suara di dapur. Eh, ternyata sudah ada kamu,"
"Berani ya kamu, Rum?"
"Berani maksud, Nyonya?"
"Itu kepala kamu, ada handuknya. Kamu sudah mandi, keramas, padahal suhunya dingin banget. Saya aja masih pake hoodie,"
Widya tersenyum, seraya tetap mengerjakan pekerjaannya menghaluskan bumbu dengan blender untuk dicampurkan ke masakannya.
"Ada yang perlu saya bantu?"
"Oh, ndak usah. Nyonya santai saja 'kan tujuan ke sini selain menjenguk Pak Mada. Nyonya juga ingin beristirahat, refreshing,"
"Nyonya mau dibuatkan minuman, apa?"
"Kopi susu kalau ada,"
"Oh, siap akan saya buatkan,"
***
Tiga puluh menit kemudian, Widya datang dengan membawa nampan.