Penghuni villa sudah kembali ke formasi awal. Mada, Widya, Mang Ecep, dan Bi Yoyoh. Semua juga sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Mang Ecep mengerjakan pekerjaannya, mengurus taman, kolam renang, dan urusan lainnya.
Bi Yoyoh dengan perdapuran dan urusan rumah tangga lainnya, sementara Widya masih dengan tugasnya. Mengurus segala keperluan yang Mada butuhkan. Namun, hingga kini laki-laki itu masih bersikap sama. Dingin, menjaga jarak dan Widya paham itu. Namun, Widya jadi serba salah.
Di satu sisi dia memahami keadaan Mada, tapi di sisi lain dia sedang bekerja menjadi asisten pribadinya. Dia harus bersikap professional layaknya seorang asisten pribadi dengan atasannya.
Bekerja menjalankan tugasnya, lalu mendapatkan bayaran. Soal penilaian tentang kinerjanya itu urusan belakangan. Sejak Mada bicara tentang mimpi yang terasa aneh baginya. Laki-laki itu seperti menghindar setiap kali Widya mendekatinya.
Gemas dengan kondisi seperti ini. Ingin rasanya Widya mengungkapkan. Siapa dia sebenarnya? Agar Widya bisa mendekati laki-laki itu kembali. Sudah berulang-ulang dipikirkan dengan cukup matang. Namun, keraguan kembali muncul. Setiap kali Widya ingin memberanikan diri bicara.
Perempuan itu khawatir, takut jika terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Karena di sisi lain, Widya masih sangat membutuhkan pekerjaan dan jika akhirnya dia berani berkata yang sebenarnya. Jika dirinya tengah hamil hasil pernikahan sirinya dan Mada tidak mau mengakui lalu malah mengusirnya.
Sementara dia sendiri belum siap kehilangan pekerjaan. Sebab, masih banyak keperluan dan kebutuhan yang perlu dia persiapkan sebelum dirinya melahirkan. Belum lagi keluarga di kampung yang bergantung penghidupannya pada perempuan itu.
***
Tok! Tok!
Widya mengetuk pintu kamar Mada. Namun, tak ada jawaban dari dalam. Dia lantas memberanikan diri dan terbukalah pintu itu secara perlahan karena memang tak dikunci oleh sang pemilik kamar.
"Maaf, Pak. Sudah waktunya Bapak mandi,"
"Hmmm,"
Jawaban yang sama bila Widya mengingatkan sesuatu padanya.
"Pak,"
Widya memberanikan diri untuk berucap. Namun, tak segera mendapat respon. Dia ingin pergi dari tempat itu.
Namun, Mada malah bertanya secara runtut tanpa jeda.
"Kok mau keluar dari kamar 'kan belum selesai ngomongnya?"
"Apa kamu sudah gak betah kerja di sini. Kayak yang lain?"
"Apa mau resign?"
Pertanyaan demi pertanyaan itu mampu membuat Widya terdiam di tempat seraya menunduk .
Hatinya tiba-tiba berdenyut terasa sakit mengetahui kenyataan jika selama ini. Mada sengaja mengabaikan hanya karena tak ingin dia bekerja menjadi asisten pribadinya lagi.
Dengan sedikit keberanian dan rasa gugup yang kentara, Widya membalik badan dan membuka kembali pintu yang hampir tertutup lalu berkata.
"Tega sekali, Bapak ini memperlakukan saya seperti itu,"