Hubungan yang sempat renggang dan menghindar. Kini kembali pulih. Mada dan Widya kembali akrab. Bukan sebagai suami-istri, tetapi sebagai bos dan asisten pribadi.
Kata-kata kemarin yang diucapkan perempuan itu. Kembali mengingatkan Mada pada perempuan dari masa lalunya. Perempuan yang pernah menjadi cleaning service di kantornya, asisten pribadi Oma, dan perempuan yang dia nikahi secara siri hampir satu tahun lalu.
Sejak kecelakaan enam bulan silam. Keinginan bertemu dengan Widya sudah ada bahkan sebelum insiden itu terjadi. Mada sudah merencanakannya dengan sangat matang. Namun sayangnya, keinginan itu belum bisa terwujud.
Karena kondisinya yang buta akibat kecelakaan. Hidup Mada pun berubah. Sudah tak lagi sama seperti dulu yang selalu padat dengan segala pekerjaan.
Hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Mada merasa hampa, sunyi, lantaran keadaannya. Tak bisa melihat, tak sanggup lagi beraktivitas layaknya dulu. Namun, sejak perkataan itu terlontar, perkataan yang diucapkan asisten pribadinya.
Hati Mada tergerak. Keinginan itu pun muncul secara tiba-tiba dan ingin segera dia lakukan. Mada ingin sembuh, ingin seperti dulu, bisa melihat, bisa bekerja. Laki-laki itu ingin kembali seperti semula. Memimpin kembali perusahaan yang telah diwariskan Omanya.
Dan keinginan terbesarnya dapat bertemu dengan Widya. Bicara empat mata tentang pernikahannya, tentang masa depannya. Entah dengan Widya atau pun yang lainnya.
***
Duduk menikmati pemandangan sembari merasakan embusan sejuk angin. Inilah yang menjadi rutinitas Mada sehari-hari setiap sore di villa keluarganya di kota Bogor.
Sebuah tempat peristirahatan yang cukup nyaman selama dirinya mengalami kebutaan. Bersama Mang Ecep, Bi Yoyoh, dan asisten pribadi yang selalu ada menemani di setiap harinya.
Namun, kini Mada sudah mulai merasa bosan, jenuh, dan dia ingin kembali seperti dulu. Kembali dengan segala rutinitas, aktivitas, dan kesibukan kantornya.
"Arum,"
"Iya, Pak?"
"Apa kamu pernah merasa bosan, atau jenuh di hidupmu?"
"Pernah, Pak. Setiap orang kayaknya pernah merasakan itu. Tapi beda ya, Pak. Kalau nanti sudah mati,"
Mada tertawa renyah mendengarnya.
"Memangnya kamu pernah tau rasanya mati seperti, apa?"